Mewakili teman-teman salumni, saya mengucapkan banyak terima kasih telah [diperkenankan] bergabung dalam kegiatan PPI Hiroshima yang cukup banyak, kita juga diberi kesempatan untuk saling bersilaturahmi dari Sabang sampai Merauke, dipersatukan di sini, dan bisa bertemu dengan saudara yang tidak pernah kenal satu sama lain sebelumnya.
Seperti telah disampaikan [Mas Kadafy], berjuang dalam menghadapi empat musim di mana [membuat] kita lebih kuat dan menjadi seperti sakura yang lebih indah. Perjuangan kita sebagai para mahasiswa dan keluarga mahasiswa yang mendampingi, juga atas doa dari mas-mas dan mbak-mbak sekalian, alhamdulillah, kami diberi kesempatan untuk lulus pada Maret 2018 ini. Dan semoga ilmu kami semoga dapat dimanfaat semaksimal mungkin di Indonesia atau mungkin suatu hari dimanfaatkan juga di Jepang kalau mungkin [untuk] yang kerja di Jepang.
Selanjutnya, nanti harapan kami adalah… semoga yang belum dapat pekerjaan segera mendapat pekerjaan, yang belum dapat jodoh segera mendapat jodoh. Karena berpasangan itu insyaAllah itu lebih “menarik”. Semoga tetap terjalin juga silaturahmi kita tetap terjalin juga di Indonesia dan Jepang, dan semoga suatu hari kita ada kesempatan untuk mengunjungi Jepang kembali untuk suatu acara.
Dan apabila kami banyak kesalahan selama bergaul, atau tidak mengacuhkan, atau tidak saling sapa karena tidak saling kenal karena saking banyaknya anggota PPIH yang datang dan yang pergi, kadang begitu cepat, ada yang program satu bulan, tiga bulan, atau setahun. Alhamdulillah saya di sini mendapat kesempatan untuk menikmati tinggal di Jepang selama enam setenah tahun dan mungkin sebagai mahasiswa terlama, mungkin karena saking menikmatinya sehingga tinggal di sini bertahun-tahun.
Kami mengucapkan mohon maaf sebesar-besarnya apabila kami selama bergaul banyak kesalahan, dan apabila bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, dan mas-mas ada kesalahan juga kami memaafkan. Kami minta doa restunya perjalanan ke Indonesia semoga aman lancar dan dapat bertemu dengan keluarga.

Yang masih berjuang juga, kami doakan semoga nanti diberi kemudahan. Sebenarnya di balik kemudahan itu banyak sekali kesulitan-kesulitan: yang ditempa oleh Sensei, dimarahi, yang ditindas(?), saya sampai 10:30 malam harus latihan presentasi, yang masih kurang ini-itu. Kalau saya sebagai wanita saya sering berderai air mata di depan Sensei,
kalau mas-mas tentunya kuat, kalau mungkin saya terlalu letoy atau karena wanita hatinya lembut.
Rasanya cukup itu saya. Mohon maaf, apabila banyak kesalahan
Akhirul kalam, assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.
(Wiji Astuti)