Jarum jam sudah hampir menunjukan pukul 12 siang. Cuaca dingin musim gugur membuat siang hari itu masih dingin seperti masih di pagi hari. Meskipun demikian, di luar jendela IDEC Building lantai 4 sudah terlihat aktifitas mahasiswa dan dosen yang berhamburan menuju kantin (Shokudo) untuk istirahat makan siang. Terbersit dalam pikiran saya untuk menelpon Pak Tuswadi, ketua PPI Hiroshima yang baru, terkait pembentukan pengurus PPIH. Nokia jadul bawaan dari Indonesia pun saya keluarkan dari saku dan langsung memanggil nomor beliau.

Pak Tuswadi (Presiden PPIH) sedang berdiskusi dengan Tabata san (HIA representative)
ditemani oleh Mbak Sofya dan Mbak Nuria
Tuit…tuit…., Tidak lama suara diujung sana menyapa, “Halo, piye mas Beni” ujarnya sedikit berbisik.
“Di mana Pak?”, tanya saya yang sedikit surprise karena tidak biasanya Pak Tuswadi langsung mengangkat telepon.
“Iki aku masih di bis menuju ke kampus”, ujarnya dengan logat Banjarnegara yang khas. Pantas saja beliau menjawab telepon sambil berbisik karena biasanya di bis memang tidak diperbolehkan menelpon. “Nanti ikut rapat yo jam 12 dengan Tabata san di Shokudo”, timpalnya kemudian.
“Hwek…!” Cukup terkejut dengan ajakan mengikuti rapat yang justru lain dari tujuan saya menelpon Pak Tuswadi. Langsung melirik ke pojok kanan bawah layar monitor sudah menunjukan 11.45. Ada apa ini kok ngajak rapat 15 menit sebelumnya. Terbersit dalam pikiran saya untuk cari-cari alasan agar bisa tidak ikut rapat. “Oke deh Pak, nanti saya hubungi bapak lagi ya kalau sudah mau jam 12”, ujar saya sambil terus berpikir apa ya alasannya.
Namun teringat kembali bahwa Pak Tuswadi bersedia menjadi ketua PPI adalah suatu pengorbanan besar bagi beliau. Saya dan rekan-rekan mahasiswa yang lain yang bisanya main tunjuk beliau jadi ketua seharusnya mendukung apa yang menjadi ajakan beliau. Meski tidak ada persiapan untuk ikut rapat, akhirnya saya pun membulatkan diri untuk mendukung program Pak Tuswadi. Jangankan 15 menit sebelum rapat baru diajak, satu detik sebelum rapat pun sudah seharusnya saya siap.
Tiba di Shukudo bersama-sama Mbak Sofya, saya menjumpai Tabata san (perwakilan Hiroshima Indonesia Association), Bu Nuria (Bendahara PPIH), Pak Obie Farobie (Ketua KMIH) dan tentu saja Pak Tuswadi sedang duduk di pojok Shokudo. Namun rapat urung dilaksanakan karena alasan kurang tepatnya tempat di dalam kantin. Atas usulan Mbak Sofya, akhirnya kami pun pindah ke Freespace Room yang berdekatan dengan Shokudo.
Pembicaraan pun dimulai. Sebagian besar bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jepang (Nihongo). Alhasil, saya Cuma menikmati bagaimana Tabata san bertutur Nihongo sedangkan terjemahannya diperoleh dari Mbak Sofya dan Mbak Nuria. Sedangkan Pak Tuswadi, meski masih sering konfirmasi ke Mbak Sofya dan Mbak Nuria, beliau cukup komunikatif dalam berbahasa Jepang. “Tidak salah kali ini Pak Tuswadi yang jadi Ketua PPIH”, gumam saya.
Pembicaraan berlangsung cukup lama. Berbagai topik pembicaraan pun satu per satu dibahas. Mulai dari HIA Party, Farewell Party, Hiroshima Flower Festival, Pertemuan dengan International Section dari Hiroshima Prefecture, dan tour ke Mazda. Yang cukup penting dalam pertemuan ini adalah inisiasi kerjasama terkait kebutuhan pabrikan Mazda untuk merekrut tenaga-tenaga professional dari Indonesia khususnya mahasiswa Indonesia di Jepang. Apakah ini akan menjadi peluang bagi para mahasiswa Indonesia di Hiroshima dan Jepang pada umumnya? Mudah-mudahan. Ini semua tergantung bagaimana kita menyikapi selanjutnya.
Meeting pun selesai setelah sekitar 30 menit. Tabata san langsung pulang, sedangkan Pak Tuswadi dan Mbak Sofya langsung rehat makan siang di Shukodo. Ah!, padahal Tabata san tadi nawari makan siang bareng-bareng di Shokudo. Kok tadi pada nolak rame-rame ya?
Semangat !!!!!
Reported freely by Beni