Sebagai sebuah organisasi, PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), bukanlah organisasi kemarin sore. Jika Indonesia Vereenidging, atau Perhimpunan Indonesia, yang didirikan oleh para mahasiswa di Belanda pada awal abad 20, dianggap sebagai cikal bakal PPI di seluruh dunia, maka usia PPI lebih tua daripada usia Republik Indonesia itu sendiri. Dan jika kita menengok sejenak pada sejarah pembentukan Perhimpunan Indonesia, maka kita akan melihat dengan jelas pertarungan ide dan gagasan, tingginya cita-cita, serta jauhnya jangkauan idealisme dan visi para pelajar tersebut, terutama berkaitan dengan kondisi Ibu Pertiwi.
Baiklah. Mari sekarang kita menengok sebentar ke masa lampau. Kembali ke masa sekitar 90 tahun lalu ketika untuk pertama kali Perhimpunan Indonesia didirikan.
Siapakah mereka, para mahasiswa tersebut?
Tentu saja mereka adalah orang-orang yang beruntung. Mereka adalah anak-anak orang terpandang (bangsawan) yang karena politik etis pemerintah kolonial Hindia Belanda dapat mengenyam pendidikan hingga ke Negeri Belanda. Jika mau, mereka dapat dengan mudah menikmati segala posisi, jabatan, pangkat, uang, dan segala macam kemewahan, baik selama di Negeri Belanda maupun saat selesai pendidikannya. Tapi mereka memilih jalan yang berbeda. Mereka yang berdarah biru, bersama dengan segala hak istimewa yang melekat pada diri mereka, melakukan bunuh diri kelas dengan sukarela dan memilih jalan sunyi dan terjal untuk bersetia kepada cita-cita, pandangan, idealisme dan ideologi mereka, yaitu membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan.
Bagaimana kondisi Indonesia saat itu?
Indonesia awal abad 20 adalah Indonesia setelah konsolidasi kekuasaan kolonial Belanda menjadi semakin mantap, tetapi di sisi lain juga kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan semakin masif di Hindia Belanda (red: Indonesia). Kemiskinan melahirkan apa yang kemudian disebut shared poverty. Masyarakat Indonesia (kecuali kaum bangsawan) dikategorikan sebagai bangsa kelas tiga, yang bahkan akses ke kesehatan, pendidikan, dan ekonomi adalah hal yang sulit dijangkau. Dengan liberalisasi ekonomi kolonial di masa itu, eksploitasi, baik terhadap sumberdaya alam dan manusia mencapai puncaknya. L’explotation L’homme par l’homme. Sempurna.
Apa yang mereka lakukan?
Mereka mengorganisasi diri mereka. Mereka menggelar diskusi, membicarakan dan mendialogkan cita-cita mereka. Mereka membangun kesepahaman menuju persatuan, persatuan cita-cita, persatuan pandangan dan idealisme, meski ideologi berbeda. Mereka kemudian bergerak bersama menuju cita-cita tegaknya Indonesia yang berdaulat dan merdeka.
Bagaimana dengan sekarang?
Mari kita renungkan bersama.