Wajah Indonesia adalah sebuah antimoni, bukan sebuah wajah tunggal. Wajah yang dibentuk oleh pertarungan ide dan gagasan dari orang atau sekelompok orang (organisasi), yang berlangsung lama, yang bahkan terkadang bisa berlangsung dengan sangat brutal dengan melibatkan tangan-tangan kekuasaan. Para pemenang dari area gladiator pertarungan ide dan gagasan itulah yang selanjutnya menjadi penafsir tunggal sejarah, serta penentu utama arus sejarah Indonesia ke depan. Singkatnya, para pemenang beserta semua wacananya menjadi arus utama dalam jalannya sejarah Indonesia. Di luar itu adalah wacana pinggiran dan terpinggirkan. Tetapi apakah wacana pinggiran tersebut secara otomatis mati dan ikut terkubur?
Sejak kedatangan Belanda, perlahan-lahan sistem kolonial menggeser kekuatan-kekuatan sosial politik yang sudah mapan sebelumnya di Nusantara. Kekalahan secara politik yang diderita oleh masyarakat Nusantara, ikut memberikan kebangkrutan secara jiwani. Nilai-nilai Barat (Belanda) kemudian menjadi dominan dan menjadi arus utama, termasuk di dalamnya adalah kebudayaan tulis (literasi). Dalam wacana arus utama, yang dimaksud dengan masyarakat yang literate adalah mereka yang mampu menggunakan huruf latin (alphabet), sementara mereka yang tidak menguasai penggunaan instrumen tersebut dianggap sebagai illiterate. Sudah sejak lama muncul anggapan bahwa orang Nusantara, hingga abad 20, 90% masih illiterate, buta aksara dan tidak memiliki budaya tulis. Benarkah?
Dalam pergulatannya, Oman Fathurahman, guru besar bidang filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, menemukan kenyataan bahwa khasanah peradaban dan kebudayaan yang ada di Nusantara di masa lalu, terutama kebudayaan tulis, tidak kalah dari kebudayaan besar lain di waktu yang sama (misalnya China). Khususnya sejak abad 16, saat pengaruh Islam sudah meluas di Kepulauan Nusantara, karya tulis yang dihasilkan sudah luar biasa banyak dalam aspek kuantitas, dengan spektrum tulisan yang sangat luas (mulai dari persoalan agama, filsafat, hukum, hingga persoalan bagaimana mengatasi ejakulasi dini), serta penulis yang beragam (tidak hanya ditulis oleh kaum elit, tetapi juga masyarakat biasa). Hal tersebut diungkapkan oleh Oman dalam acara Talkshow Merawat Indonesia; Menjaga Kesinambungan Sejarah Bangsa yang diadakan oleh Klub Sejarah Indonesia bekerja sama dengan PPI Komisariat Hiroshima, pada hari Sabtu, 11 Februari 2017, di Common Space Daigakukaikanmae Hiroshima University.
Mengutip Khasanah Naskah (1999), sebuah buku Catalogue of Catalogues yang ditulis Henri Chambert-Loir bersama Oman, seorang filolog Perancis, yang juga guru Oman, jumlah naskah yang ada di Nusantara mencapai ratusan ribu hingga jutaan. Keberadaan naskah-naskah tersebut masih tersebar di masyarakat, yang bahkan berada dalam kondisi yang menprihatinkan. Naskah-naskah tersebut dianggap bukan barang yang penting oleh masyarakat. Terkadang, karena ketidakmampuan membaca naskah tersebut, juga membuat naskah tersebut diabaikan dalam waktu yang lama. Persoalan lain, yang berminat terhadap naskah tersebut masih sangat minim. Sehingga, sulit untuk mengungkap semua naskah tersebut dan membuka tabir sejarah yang menyelimutinya.
Sejarah sebagai sebuah perspektif
Pengungkapan naskah-naskah kuno, menjadi sangat penting jika kemudian dikaitkan dengan kebutuhan untuk mendefinisikan identitas kebangsaan dalam sudut pandang orang pertama. Sebagaimana dimaklumi, bahwa kita merupakan pemilik sumber-sumber material tersebut (naskah, prasasti, dan sebagainya), tapi hingga saat ini, justru orang dari bangsa lain yang kemudian membangun kesarjanaan mereka dengan sumber tersebut. Diperparah lagi dengan sebuah kondisi di mana kita memandang diri kita sendiri dengan perspektif dan kacamata pihak lain. Untuk sekedar mengambil contoh, saat kita membicarakan manusia Jawa, maka kita akan melihatnya dalam sudut pandang Clifford Geertz. Saat berbicara Aceh, maka perspektif Snouck Horgronje lah yang kemudian kita gunakan. Dan masih banyak contoh lain.
Padahal, kita lah yang memahami konteks tulisan tersebut. Kita jugalah yang memiliki ruh dan jiwa atas tulisan tersebut. Sehingga, menjadi sangat masuk akal jika kemudian kita juga yang harusnya paling mengerti tentang diri kita sendiri. Dengan demikian, pengungkapan naskah-naskah kuno tersebut, akan membawa kita kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan masa lalu, dalam sudut pandang kita sendiri. Pengungkapan tersebut, akan membawa kita menemukan diri kita dalam sudut pandang kita sendiri. Menemukan diri kita, yang merupakan unsur pembentuk entitas yang saat ini bernama Indonesia, berarti pula menemukan Indonesia. Pengungkapan ini, juga berarti pewarisan nilai dan kebijaksanaan masa lalu kepada generasi sekarang dan masa mendatang. Maka, pengungkapan ini juga berarti merawat Indonesia dengan menjaga kesinambungan sejarah Indonesia.
Maka, sejarah harus dipandang sebagai sebuah perspektif. Sebagai sebuah sudut pandang. Bukan sebagai pengetahuan semata. Apalagi semata sebagai objek. Jika sejarah dipandang sebagai sebuah perspektif, maka sejarah akan selalu menemukan vitalitasnya untuk menjawab perubahan-perubahan yang terjadi saat ini dan masa mendatang. Dan tugas seorang filolog, tegas Oman, bukan hanya memahami manuskrip dalam kacamata sastra dan kebahasaan (linguistik) semata, tetapi juga memahami konteks. Artinya, memahami sejarah juga. Sehingga, naskah tersebut menjadi sebuah naskah yang hidup dan mampu berdialog dengan zaman.

Kita, sebagai pewaris sejarah, harus mampu menggali sejarah kita sendiri. Dan akhirnya, mendudukkan sejarah pada tempat selayaknya sebagai penerang jalannya sejarah kita di masa depan.
(ayinx, 2017)