Kuliah Umum PPIH – APBN dan Pengisian SPT

Salah satu agenda PPI Hiroshima yang menjadi tanggung jawab sie akademik adalah mengadakan kuliah umum-kuliah umum yang menyajikan tema-tema menarik dengan materi yang baik dan disampaikan oleh pembicara yang berkompeten di bidangnya. Pada kesempatan kali ini yang bertepatan dengan hari Sabtu, maka dilaksanakan kuliah umum yang mengangkat tema APBN 2019. Kegiatan yang bertempat di Free Space Daigaku Kaikan-mae lantai 2 ini tidak hanya membicarakan mengenai APBN itu sendiri, namun dilanjutkan dengan praktik pengisian SPT tahunan secara langsung. Bentuk acara yang dibuat dalam dua sesi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang nyaman serta menghindarkan para pendengar dari kebingungan dalam mengikuti kuliah umum ini. Susunan acara yang terdiri dari dua rangkaian acara, dimana satu bagian bersifat teori dilanjutkan acara yang sifatnya praktek secara langsung diharapkan menjadi terobosan agar acara yang dihadirkan ke tengah-tengah pendengar tidak membosankan dan lebih mudah diingat  kedepannya.

Materi pertama yang membawa tema APBN dan Perpajakan disampaikan selama 45 menit termasuk sesi tanya jawab. Materi yang menarik ini  disampaikan oleh bapak Widdy M. S. Wibawa dan yang berperan sebagai moderator adalah saudara Bintan Y. Wiratama. Materi tentang APBN ini dimulai dengan informasi bahwa informasi APBN 2019 yang berformat pdf merupakan dokumen terbuka, yang artinya siapa pun yang memiliki keingintahuan tentang rincian APBN 2019 ini dapat mengunduhnya secara langsung, tanpa suatu izin tertentu. APBN 2019 memiliki nafas yang berbeda dengan APBN yang dirancang pada tahun-tahun sebelumnya, sebab APBN 2019 menitikberatkan pada faktor pembangunan sumber daya manusia dan mendorong investasi. Apabila merunut pada APBN pada tahun-tahun sebelumnya, maka fokusnya adalah pada pembangunan infrastruktur dan sarana-prasarana penunjang kegiatan ekonomi. Sebelum membahas apa saja yang menjadi titik penting dalam APBN 2019, maka sekilas disampaikan alur penyusunan hingga APBN 2019 dapat terbit seperti sekarang ini. Proses pertama yang dilalui adalah pada Januari 2018 ditentukan arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional, setelah arah kebijakan dan prioritas nasional ditentukan, maka pada Maret 2018 dibuatlah resource envelope. Resource envelope atau kapasitas fiskal adalah kemampuan keuangan negara yang
dihimpun dari pendapatan negara untuk mendanai anggaran belanja negara yang meliputi belanja kementerian atau lembaga dan belanja non kementerian atau lembaga. Setelah kapasitas fiskal ditentukan maka pada 18 Mei 2018 dilakukan pengajuan pokok-pokok kebijakan fiskal, kerangka ekonomi makro dan rencana kerja pemerintah (RKP) ke DPR. Pada tanggal 16 April 2018 dikeluarkan surat bersama pagu indikatif dan rancangan rencana kerja pemerintah. Setelah surat bersama tersebut terbit maka disusul dibuatlah surat bersama pagu anggaran dan penyelesaian penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-K/L) oleh kementerian atau
lembaga pada 19 Juli 2018. Setelah kurang lebih sebulan berikutnya maka Presiden mengajukan RAPBN yang dilengkapi dengan RUU dan nota keuangan dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2018 di depan anggota dewan. Tanggal 23 November 2018 terbit UU nomor 12 tahun 2018 tentang APBN 2019, selanjutnya pada 31 Oktober 2018 dilakukan sidang paripurna penetapan APBN 2019. Setelah sidang paripurna penetapan APBN 2019 maka pada tanggal 29 November 2018 terbitlah peraturan presiden nomor 129 tahun 2018 tentang rincian APBN tahun anggaran 2019. Tahap akhir perjalanan APBN 2019 sebelum dilaksanakan adalah penetapan dan penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA).

APBN 2019 membawa jargon sehat, adil dan mandiri, maksudnya adalah anggaran yang disusun ini memiliki kemampuan antisipatif dan fleksibel dalam menghadapi dinamika perekonomian global. APBN 2019 merupakan anggaran belanja dengan defisit anggaran terendah semenjak 2013 dengan keseimbangan primer mendekati Rp 0. Negara secara terus menerus berusaha meningkatkan produktifitas belanja dengan cara reformasi belanja, yaitu negara fokus untuk mendukung daya saing, ekspor dan investasi. Selain reformasi belanja, negara melakukan penguatan value for money. Rencana-rencana tersebut dilaksanakan dengan memperkuat sinergi antara pusat dan daerah sehingga dapat meningkatkan transparansi transaksi dan laporan keuangan yang akuntabel. Untuk membiayai berbagai pembangunan dalam rangka meningkatkan kemajuan kehidupan bangsa maka penerimaan negara terus dioptimalkan namun tetap realistis. Optimalisasi penerimaan negara tetap mengedepankan iklim usaha dan investasi yang menarik bagi investor dan pelaku usaha pada setiap strata. Optimasi penerimaan negara juga ditopang dengan peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNPB) melalui peningkatan layanan dan tata kelola. Proyeksi belanja negara juga berfokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana alam, terutama di provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam upaya untuk meningkatkan ketahanan nasional dalam mengatasi bencana, maka penguatan pemerintah daerah dilakukan hingga menyentuh tingkat kelurahan.

Hal-hal yang baru dan strategis dalam APBN 2019 salah satunya adalah penguatan bidang kesehatan melalui penurunan stunting dengan cara intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif pada 160 kabupaten/kota. Penguatan keluarga harapan (PKH) menjadi perhatian khusus, yaitu peningkatan besaran manfaat pada komponen pendidikan dan kesehatan. Salah satu hal yang baru yaitu tax  expenditure. Tax expenditure adalah insentif pajak sebagai bentuk transfer sumberdaya kepada publik berupa pengurangan kewajiban pajak untuk mendukung daya saing industri nasional dan mendorong hilirisasi industri.

Salah satu asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2019 adalah lifting minyak. Lifting minyak merujuk pada besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk membawa satu barrel minyak bumi ke permukaan tanah dari perut bumi atau disebut sebagai rata rata biaya produksi minyak mentah, merupakan salah satu  parameter ekonomis yang dapat dijadikan sebagai indikator penting terhadap potensi keuntungan dari produksi dari suatu ladang minyak. Angka lifting minyak yang terus menurun tidak
sebanding dengan meningkatnya kebutuhan minyak, kenyataan ini membuat besaran lifting minyak menjadi faktor penting dalam menyusun postur ekonomi makro. Nilai tukar rupiah tidak dapat dilupakan dalam membuat gambaran ekonomi makro yang nyata, nilai rupiah yang terus terdesak hingga mencapai RP 14.248 per dollar Amerika menjadi salah satu timbulnya sentimen negatif pada perekonomian nasional, dalam APBN ini diprediksi nilai rupiah akan kembali merosot ke angka Rp 15.000 per dollar Amerika.

Dalam rangka menyusun anggaran belanja yang realistis dan handal, maka keadaan perekonomian global juga menjadi refleksi dalam menyusun APBN ini. Perekonomian global yang menjadi acuan salah satunya adalah moderasi Tiongkok. Moderasi Tiongkok adalah perlambatan ekonomi negara tersebut. Negara tersebut biasanya mencatatkan angka pertumbuhan 2 digit setiap tahunnya, namun di tahun ini proyeksi pertumbuhannya tidak seoptimis sebelumnya. Pertumbuhan yang melambat tersebut disebabkan oleh perang dagang antara Amerika dan Tiongkok, perang dagang ini juga diperkeruh dengan ketegangan geopolitik. Dalam tubuh Amerika sendiri terjadi normalisasi moneter, sehingga Amerika dapat meningkatkan tekanan pasar keuangan global.

APBN 2019 yang membawa jargon adil, sehat dan mandiri menjaga defisit anggaran pada angka 1,84% dengan primary balance mendekati Rp 0. Primary balance adalah total pendapatan negara dikurangi total pengeluaran tanpa menambahkan besaran kewajiban pembayaran utang. Jargon mandiri digunakan dalam APBN 2019 sebab komponen pajak sendiri menutup 82,5% dari anggaran negara. Sedangkan sisanya ditutup dengan penerimaan negara bukan pajak sebesar 17,5% dan penerimaan hibah sebesar 0,4%.

Sesi kedua kuliah umum diisi dengan pengisian SPT tahunan yang dilakukan melalui web site resmi kementerian keuangan secara langsung. Sebelum mengisi SPT secara on-line maka dilakukan simulasi dengan SPT yang sudah dicetak. Kegiatan pengisian SPT ini berlangsung selama satu jam dan dipandu langsung oleh bapak Endra Iraman dan didampingi langsung oleh bapak Widdy M. S. Wibawa. Acara ini dilakukan dengan kerja langsung, secara bersama-sama dijelaskan setiap item yang
ada dalam surat tersebut, termasuk kiat-kiatnya. Penjelasan yang detail namun tetap sederhana ini membuat acara menjadi cair dan dipenuhi canda tawa namun tetap serius, sebab di dalam surat tersebut terdapat beberapa bagian yang perlu dicermati
agar tidak dobel dalam membayar pajak. Setelah simulasi pengisian SPT cetak, maka dilanjutkan pengisian SPT on-line , namun sayangnya alamat yang dituju tidak aktif, mungkin karena hari libur, sehingga web tersebut tidak aktif.

Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat pemateri kepada bapak Endra Iraman dan bapak Widdy M. S. Wibawa oleh ketua PPI Hiroshima.

Penyerahan sertifikat dari ketua PPIH kepada pemateri Bapak Endra Iraman (atas) dan Bapak Widdy M.S. Wibawa (bawah(.

KELAS FOTOGRAFI DAN VIDEOGRAFI PPIH FEBRUARI

Fotografi dan videografi mempunyai daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Banyak diantara mereka yang menjadikannya sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau bahkan tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai sarana menghasilkan pundi-pundi uang. Berbagai kalangan pun, dari kawula muda hingga tua, sangat menyukai kegiatan-kegiatan tersebut terutama fotografi termasuk para warga baik nonpelajar maupun pelajar yang ada di Hiroshima. Oleh karena itu, untuk mewadahi minat mereka, Divisi Minat dan Bakat PPIH mengadakan Kelas Fotografi dan Videografi #1.

Kelas Fotografi dan Videografi yang dilaksanakan pada hari Senin, 11 Februari 2019 di IDEC ruang 806 ini merupakan kelas pembuka dimana para peserta belajar mengenai teknik dasar fotografi dan videografi. Kedua kelas tersebut diadakan secara terpisah namun dibersamai oleh tutor yang sama yaitu Saudara Wanda P. Reysandi. Kelas pertama adalah Kelas Fotografi yang dimulai pukul 10.15-12.15 dan dilanjutkan dengan Kelas Videografi yang dimulai pukul 13.00-15.00. Masing-masing kelas diikuti oleh 13 peserta.

Tutor sedang menyampaikan materi

Tutor menyampaikan materi yang dilanjutkan dengan tanya jawab dan diikuti oleh praktik langsung mengenai materi yang disampaikan. Ada empat poin penting yang disampaikan di Kelas Fotografi yaitu triangle photography (ISO, F/Aperture, dan Shutter Speed), lighting (front, side, backlighting, dan lighting source), komposisi (angle dan framing position), dan editing (contrast, texture, dan tone). Sedangkan untuk Kelas Videografi, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan video yaitu pre-produksi (story telling), pada saat produksi (moving dan angle), dan editing (cut to cut dan colouring).

Praktek fotografi

Kelas Fotografi dan Videografi yang selanjutnya akan dilaksanakan di luar ruangan dimana peserta akan langsung praktik “hunting” foto dan video di sekitar area Hiroshima University. So, nantikan dan ikuti kelas berikutnya ya.

Para peserta berfoto di akhir kegiatan

TGIF PPIH Februari – Romantisme Indonesia dan Jepang

TGIF PPIH hadir di bulan Februari dengan mengangkat topik seputar hubungan antara Indonesia dan Jepang yang dirangkum dalam tajuk “Romantisme Indonesia-Jepang”. Pada sesi kali ini, pemateri merupakan Maria Gustini dan Reza Rustam yang memang keduanya sedang mendalami studi dengan bidang yang sangat berhubungan dengan topik di Graduate School of Letters, Hiroshima University.

Kegiatan yang dilakukan pada Jumat malam hari di IDEC Room 805 ini dipandu oleh saudara Gillang dari divisi relasi publik. Sekitar 10 orang datang secara silih berganti untuk berdiskusi santai di kegiatan ini. TGIF PPIH kali ini terdiri dari tiga sesi, sesi pertama berupa pemaparan materi dari Maria mengenai Hubungan Indonesia dengan Jepang di masa modern, dilanjutkan dengan sesi kedua yang membahas Hubungan Indonesia dan Jepang di masa lampau khususnya awal abad 20, dan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab mengenai topik TGIF kali ini

Slide Maria

Presentasi materi oleh Maria

Slide Reza

Presentasi materi oleh Reza

Resume dari materi yang dipaparkan oleh Maria kurang lebih sebagai berikut.

Mulai dari awal abad 20, Jepang menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan di Asia dengan beberapa penaklukan terhadap Korea, China, dan Asia Tenggara. Seiring dengan pecahnya Perang Dunia Dua, kita sama-sama tahu jika Jepang berkuasa atas Indonesia dalam kurun waktu 3,5 tahun. Pasca Perang Dunia, hubungan antara Indonesia dan Jepang dapat dikategorikan dalam tiga era, 1) Era Orde Lama dimana Indonesia masih mencari pengakuan kedaulatan dari negara lain, 2) Era Orde Baru dimana Indonesia membuka kesempatan investasi asing selebar-lebarnya termasuk dari Jepang, dan 3) Era Reformasi dimana Indonesia memperluas kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pariwisata. Khusus mengenai awal mula perkembangan Bahasa Jepang di Indonesia, Bandung merupakan tempat dimana kelas Bahasa Jepang pertama dibuka oleh Douwes Dekker pada 8 Maret 1934). Pembelajaran Bahasa Jepang terus berkembang di Indonesia hingga saat ini terdapat 7 universitas yang memiliki jurusan Bahasa Jepang dan banyak sekolah Bahasa Jepang yang tersebar di pelbagai daerah di Indonesia.

Pelopor Guru Bahasa Jepang yang dikirim ke Indonesia (Sumber: Sumio Aoki)

Lalu resume dari materi yang disampaikan oleh Reza yaitu sebagai berikut.

Terdapat 3 catatan sejarah yang bisa digunakan sebagai sumber utama untuk mengetahui keberadaan orang Jepang di Hindia Belanda, ketiga buku tersebut yaitu

  1. Jagatara Kanwa – Ran’in Jidai Hojin no Ashiato (1968) : Obrolan-Obrolan di Jagatara – Jejak Orang Jepang di hindia Belanda, memuat 57 catatan tentang kegiatan perekonomian di NEI yang di tulis oleh anggota perkumpulan.
  2. Jagatara Kanwa – Ran’in Jidai Hojin no Ashiato (1978) edisi revisi, memuat daftar toko jepang, hubungan dagang 1938 dan 1939, peta kota batavia, bandung dan jogja. tetapi menghilangkan bagian toko pangkas rambut.
  3. Shashin de Tsuzuru Ran’in Seikatsu Hanseiki – Senzeki Indonesia no Nihonjin Shakai : Setengah abad kehidupan di hindia belanda dalam foto

Sumber: JACAR (Japan Center for Asian Historical Records) Ref.B10070590800

Pada awal tahun 1920-an, keberadaan para pelacur Jepang yang biasa disebut Karayuki-San banyak terkonsentrasi di kota-kota yang menjadi pusat perekonomian Hindia Belanda seperti Medan dan kota-kota di wilayah pantai timur pulau Sumatra, Batavia dan Surabaya. Pada masa itu, salah satu jalan yang menjadi pusat hiburan di kota Surabaya dikenal dengan sebutan Kembang Jepun karena keberadaan para pelacur wanita Jepang tersebut. Karayuki-San ini menandakan bahwa lokasi tersebut pada masa itu merupakan pusat perdagangan. Secara khusus, konflik-konflik yang terjadi antara China dan Jepang memiliki andil terhadap hubungan warga Jepang dan warga China yang sudah terlebih dahulu menetap di Hindia Belanda. Pada tahun 1923 dan 1928 terjadi peristiwa pemboikotan barang-barang Jepang oleh pedangang China. Secara umum banyak bukti sejarah tertulis yang mencantumkan gambar-gambar aktivitas perdagangan Jepang di Asia Tenggara pada masa pra pendudukan Jepang. Sebelum Jepang memulai invasi ke Hindia Belanda, tepatnya pada November 1941, Pemerintah Jepang memerintahkan Kapal Fujimaru untuk berlabuh dan mengangkut orang-orang Jepang di Hindia Belanda.

Karayuki San

Foto-Foto Toko Jepang dan Becak yang dibuat oleh Pengrajin Jepang

Studio Foto atau Toko Jepang di Asia Tenggara

Partisipan tampak serius mengikuti sharing materi TGIF PPIH

Sesi terakhir merupakan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini terdapat beberapa pertanyaan yang cukup menarik yang masing-masing dikemukakan oleh partisipan. Pertama yaitu mengenai minimnya bukti-bukti fisik keberadaan Jepang sebelum masa pendudukan Jepang. Lalu juga mengenai bukti sejarah yang mengatakan bahwa Ada 10 orang Jepang terbunuh dalam insiden di Hindia Belanda pada abad 16 atau 17 masehi dan beberapa fakta lain mengenai hubungan Jepang dan Indonesia juga diungkapkan, termasuk mengenai Paradigma orang asing terhadap “Budaya” di Jepang yang ternyata tidak benar.

Sesi diskusi dan tanya jawab

Foto bersama di penghujung TGIF PPIH Februari

HIA Social Gathering and Farewell Party

Kali ini, kami akan berbagi sekelumit cerita tentang Hiroshima-Indonesia Association (HIA) Social Gathering and Farewell Party yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Februari 2019 yang lalu. Sebagai pembuka, kami akan mengenalkan dahulu tentang HIA.

Hiroshima-Indonesia Association (HIA)

HIA merupakan sebuah asosiasi yang anggotanya merupakan pengusaha perseorangan maupun perusahaan bermarkas di Hiroshima yang memiliki afiliasi bisnis di Indonesia. Saat ini, HIA dipimpin oleh Mr. Kozo Tamura yang juga merupakan Presiden Direktur Hiroshima Gas Co., Ltd.

HIA rutin mengadakan pertemuan antar anggotanya 3 kali dalam satu tahun, untuk mendiskusikan perkembangan dan kelanjutan bisnisnya. Biasanya, pertemuan tersebut dilakukan pada hari Jumat pada minggu pertama bulan Februari, hari Selasa pada minggu terakhir bulan Mei, dan hari Selasa pada minggu kedua di bulan Agustus.

Dalam setiap pertemuannya, HIA selalu membagi acara ke dalam dua bagian, yaitu Social Lecture dan Social Meeting. Social Lecture dilaksanakan khusus anggota HIA saja dan umumnya membahas isu-isu terkini seputar Indonesia dan Jepang. Sementara pada Social Meeting, HIA selalu mengundang mahasiswa Indonesia (beserta keluarga tentunya, bagi yang sudah berkeluarga) untuk hadir sekaligus menyuguhkan penampilan khas Indonesia (tari-tarian atau musik) sambil dapat menyantap hidangan yang dipersiapkan oleh HIA.

Sesuai dengan judul atau nama pertemuan yang diadakan oleh HIA, yaitu Social Gathering yang terdiri dari Social Lecture dan Social Meeting, maka tujuan utama dari pelaksanaan acara ini adalah merekatkan dan memperkuat hubungan antara masyarakat Jepang dengan Indonesia yang ada di Hiroshima, khususnya bagi anggota HIA dan anggota PPI Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH). Di acara ini, seluruh partisipan saling berdiskusi dan berkomunikasi untuk saling mengenal diri maupun kebudayaan satu sama lainnya.

Nah, jadi, begitulah cerita singkat terkait HIA. Untuk penjelasan terkait HIA Social Gathering and Farewell Party yang lalu, yuk kita simak di bagian selanjutnya.

HIA Social Gathering and Farewell Party

Di acara HIA Social Gathering and Farewell Party 1 Februari 2019 kemarin, HIA mengundang seluruh anggota PPIH untuk hadir di acara Social Meeting di Century 21 Hotel Hiroshima. Tema yang diusung pada Social Lecture kali ini oleh HIA adalah Muslim Fashion. Karena tidak diundang dan mengikuti kegiatan Social Lecture, kami semua tidak mengerti dengan jelas hasil pertemuan tersebut. Meskipun demikian, mudah-mudahan dengan diambilnya tema Muslim Fashion, kebudayaan yang ada di Jepang akan semakin beragam sehingga semakin menarik bagi wisatawan maupun orang Indonesia yang akan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang, khususnya di Prefektur Hiroshima.

Acara Social Lecture tersebut berlangsung mulai pukul 17.00 – 19.00 JST di Ruang Ballroom Meeting Lantai 4 di Century 21 Hotel Hiroshima. Sementara itu, acara Social Gathering and Farewell Party sendiri berlangsung setelahnya, yaitu pukul 19.00 – 21.00 JST. Pada acara Social Gathering and Farewell Party, PPIH menyumbangkan dua buah penampilan kebudayaan yaitu musik akustik dan tarian tradisional. Dengan mempertimbangkan tema yang diusung oleh HIA pada Social Lecture, PPIH kali ini membawakan satu lagu nasyid berjudul Kamisama dari Edcoustic dan satu tarian tradisional bernama Tari Rudat dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Adapun ide penampilan tersebut muncul dari sang Ketua Divisi Sosial dan Budaya PPIH 2018/2019, yaitu Aruni Dinan Hanifa.

Lagu nasyid yang berjudul Kamisama ini dibawakan oleh Saudara M. Imron Azami (gitar) dan Saudara R. B. S. Loka (vokal). Lagu ini menceritakan bagaimana kita sebagai makhluk Tuhan dapat bersyukur atas segala kuasanya. Lagu ini sendiri dipilih karena memiliki lirik berbahasa Jepang, sehingga diharapkan para hadirin dari HIA dapat memahami musik tersebut.

Gambar 1 Penampilan Lagu Nasyid Kamisama dari Duo Imron dan Loka

Selepas penampilan lagu nasyid, PPIH langsung mempersembahkan Tari Rudat yang dibawakan dengan apik oleh M. Riam Badriana, Tony, dan Fikry Purwa Lugina. Tari Rudat ini merupakan tarian tradisional khas Lombok, yang menunjukkan keperkasaan para prajurit di daerah sana. Tari Rudat biasanya ditampilkan pada acara-acara keagamaan ataupun perayaan khitanan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lombok sendiri merupakan kota yang dikenal dengan sebutan Negeri 1000 Masjid.

Gambar 2 Penampilan Tari Rudat dari Riam, Tony, dan Ugi

Selain penampilan tersebut, HIA juga memberikan penghargaan kepada para mahasiswa Indonesia yang akan diwisuda pada periode Maret 2019 mendatang. Sambutan dari wisudawan kali ini diwakili oleh Saudara Murman Dwi Prasetio. Dalam sambutannya, Saudara Murman menceritakan pengalamannya selama di Jepang dan berharap pengalaman selama menempuh studi di Jepang dapat bermanfaat bagi seluruh wisudawan saat kembali mengabdi di negeri tercinta Indonesia.

Gambar 3 Mr. Kozo Tamura (Chairman HIA) memberikan penghargaan secara simbolis kepada Saudara Murman sebagai perwakilan wisudawan

 

 

 

Gambar 4 Keseruan acara HIA Socila Gathering and Farewell Party

 

Selamat untuk para wisudawan, semoga bisa terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Semoga teman-teman yang lain bisa menyusul untuk segera menyelesaikan studinya. Sukses untuk kita semua! Semoga hubungan yang baik antara masyarakat Indonesia dan Jepang ini dapat kita lanjutkan sehingga memberikan dampak yang nyata bagi kita semua. Aamiin.

Sampai jumpa di HIA selanjutnya dan acara-acara PPIH lainnya!

 

#PPIHBersahabat
#BersamaBersinergi

Olahraga Rutin PPIH Januari

Salam Olahraga

Sobat Olahraga dan keluarga besar PPIH, untuk Bulan Januari ini kegiatan olahraga rutin yang dikoordinasikan oleh PPIH-Divisi Olahraga telah melakukan kegiatan sebanyak 11 kali baik berupa cabang olahraga bulutangkis yang dilakukan Bersama dengan cabang olahraga pimpong dan futsal bertempat di East Gym dan West Gym Hiroshima University.

Jadwal Olahraga Rutin PPIH Januari

O ya, untuk kali ini kita juga beberapa kali  melakukan pertandingan persahabatan antara Tim Samurai Muda dan Tim PPIH U 30 keatas dan yang bertindak sebagai Kapten adalah Bang Mulia Putra jebolan Persiraja Banda Aceh. Selain itu, warga PPIH juga ikut serta dalam kompetisi futsal bertempat di JICA, dan saat ini sudah memasuki penghujung musim kompetisi 2018-2019.

Persiapan taktik sebelum mengikuti Liga JICA
Keseruan Olahraga Rutin PPIH Januari
Ayo latihan biar makin jago

Sebagai penutup, bagi rekan-rekan warga PPIH yang menyukai olahraga (tetapi tidak terbatas pada kegiatan olahraga diatas)  mari bergabung dan meramaikan  kegiatan rutin olahraga. Selalu ingat dengan semboyan…………………….

“a healthy mind in a healthy body”

Ski Day Out PPIH 2019

Here comes winter. Rasanya kurang sebagai orang tropis untuk melewatkan musim dingin penuh salju dimana-mana dengan hanya diam di lab dan mengerjakan deadline dan research, untuk itu PPI Hiroshima mengadakan kegiatan Ski Day Out, pada hari sabtu, 19 januari 2019. Kegiatan ini diadakan di Geihoku Kokusai Ski Resort yang terletak di utara Hiroshima. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan jarak tempuh yang dekat dan fasilitas yang lengkap, supaya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dapat menikmati dan bermain dengan salju sepuasnya.

Kegiatan ini mendapat respon positif tidak hanya dari warga Indonesia, namun juga orang dari negara lain seperti Vietnam, Laos, Philippine, Egypt and Japan. Hal tersebut terbukti saat 156 orang terdaftar dalam kegiatan ini. Kami berangkat dari Saijo dan Hiroshima pukul 07.00 dan tiba di lokasi pukul 11.30. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat pegunungan berselimutkan salju tebal. Syukur alhamdullilah, pada hari itu hujan salju turun menambah indahnya suasana winter.

Foto bersama sebelum bermain salju sesuka hati

Begitu tiba di lokasi, kami melakukan foto bersama, meskipun ditengah hujan salju semua orang terlihat bahagia dan siap untuk bermain ski dan salju. Dalam kegiatan ini semua orang bebas untuk melakukan kegiatan sesuka hati mereka. Ada beberapa orang bergegas menuju lokasi peminjaman peralatan ski, sebagian makan siang dan sebagian berfoto bersama salju. Untuk anak-anak ada pula kegiatan lomba membuat manusia salju. Diakhir acara semua orang kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan lelah setelah melepas semua stress ditengah dingin nan indahnya salju.

Balapan seluncur salju
Yang naik seluncurnya ga cuma anak-anak loh
Ada yang bermain snowboard dari atas gunung
Bermain ski di bawah
Dan mereka yang foto-foto asyik dengan latar belakang putihnya salju

TGIF PPIH Januari – Bencana Melanda, Diaspora Bisa Apa?

TGIF PPIH kembali hadir di bulan Januari dengan topik yang masih cukup hangat di Indonesia yaitu bencana alam. Beberapa bencana alam besar terjadi di Indonesia sepanjang 2018 yang menyebabkan korban jiwa dan kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Lalu timbul pertanyaan di benak, kira-kira apa sih yang bisa dilakukan oleh diaspora terhadap bencana-bencana alam tersebut? Nah melalui TGIF PPIH ini divisi Relasi Publik PPIH ingin menghadirkan diskusi hangat nan santai untuk berusaha #BersamaBersinergi menjawab pertanyaan tersebut sekaligus meningkatkan awareness warga PPIH terhadap kebencanaan di Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan pada Jumat malam hari ini dipandu oleh saudara Gillang dan Ghiffary dari divisi relasi publik. Sekitar 10 orang datang silih berganti untuk berdiskusi santai di kegiatan ini. TGIF PPIH kali ini terdiri dari empat sesi nih teman-teman, sesi pertama merupakan pemutaran video mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018, sesi kedua berupa pemaparan materi dari Gillang mengenai kebencanaan di Indonesia, dilanjutkan dengan sesi ketiga dari Pak Subaedy tentang bencana alam dari sudut pandang sosial, dan ditutup dengan diskusi bersama untuk menjawab pertanyaan yang menjadi tema kegiatan ini. Slide dari Gillang dan Pak Subaedy bisa diunduh di Slide Gillang dan Slide Pak Subaedy.

Slide Gillang
Slide Pak Subaedy

Resume dari materi yang dipaparkan oleh Gillang kurang lebih sebagai berikut.

Sejak zaman lampau Indonesia sudah sering mengalami bencana, bahkan sejak 1990 saja sudah ada 20 bencana dengan skala cukup besar yang terjadi di Indonesia. Dari bencana-bencana tersebut, sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas vulkanik dan tektonik seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Bencana-bencana tersebut tidak lain disebabkan karena letak geografis dan geologis Indonesia yang berada di Ring of Fire dan menjadi pertemuan dari tiga lempeng tektonik, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo-Australia. Peta distribusi potensi bencana yang terdapat di Indonesia kira-kira sebagai berikut

Peta Zonasi Ancaman Bencana Gempa Bumi di Indonesia (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB))

 

Peta Bahaya Tsunami di Indonesia (“A probabilistic tsunami hazard assessment for Indonesia”, N Horspool et. al., 2014)

 

Peta Bahaya Tsunami di Denpasar (Sumber: German Indonesian Tsunami Early Warning System (GITEWS))

Pemerintah Indonesia sendiri juga sudah menerapkan banyak upaya mitigasi bencana kawan-kawan, contohnya

  1. Sistem daring MAGMASistem yang dibuat oleh Kementerian ESDM ini memonitor kegiatan-kegiatan vulkanik dan tektonik yang terjadi di Indonesia secara real time. Sistem ini bisa diakses melalui situs https://magma.vsi.esdm.go.id/ maupun aplikasi “MAGMA” yang bisa diunduh melalui playstore.

    Halaman Muka Situs MAGMA
  2. Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)

INATEWS merupakan sistem peringatan dini tsunami yang berada dibawah BMKG. Sistem ini dibangun sejak Gempa Bumi dan Tsunami Aceh 2004 yang menelan ratusan ribu juta jiwa dan menerpa beberapa negara sekaligus.

Sistem Kerja INATEWS (Sumber: Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG))

Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sensor yang mendeteksi pergerakan lempeng tektonik di dasar Samudera. Sensor ini lalu mentransmisikan data melalui perantara buoy  di permukaan laut dan satelit ke Kantor Pusat BMKG yang selanjutnya menginformasikan himbauan pada masyarakat. Data tersebut juga digunakan sebagai data masukan untuk simulasi numerik tsunami untuk melakukan prediksi awal mengenai seberapa parah dampak yang mampu ditimbulkan oleh tsunami saat sebuah gempa terjadi. Namun patut diketahui bahwa sistem ini hanya mampu bekerja untuk tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi, oleh karena itu dua kasus tsunami yang terjadi tahun kemarin tidak mampu terprediksi karena pembangkit tsunami yang berbeda yaitu longsoran bawah laut untuk Tsunami Palu dan aktivitas vulkanik untuk Tsunami Selat Sunda.

 

Indonesia juga sudah memiliki sistem koordinasi pasca bencana terjadi yang cukup sistematis nih teman-teman walaupun pada pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala. Berikut diagramnya,

Mekanisme Koordinasi Manajemen Bencana di Indonesia (Sumber: BNPB)
Hirarki Manajemen Bencana di Indonesia (Sumber: JICA, 2012)

Dengan upaya mitigasi bencana yang cukup canggih dan sistem manajemen bencana yang sistematis, lalu kenapa masih banyak korban harta bahkan jiwa di setiap kejadian bencana ya. Kalau menurut Gillang sendiri terdapat faktor-faktor penyebab hal tersebut, diantaranya

  1. Kurangnya perawatan teknologi sistem peringatan dini yang digunakan Indonesia.
  2. Terbatasnya metode yang digunakan pada sistem peringatan dini di Indonesia.
  3. Kompleksnya mekanisme pemerintah dalam menganggarkan biaya untuk melakukan peningkatan dan perawatan teknologi sistem peringatan dini.
  4. Dan yang paling penting, masih rendahnya kesadaran masyarakan terhadap bencana dan kemampuan adaptasi masyarakat saat bencana terjadi.

Lalu resume dari materi yang disampaikan oleh Pak Subaedi yaitu sebagai berikut.

Pak Subaedy sedang menyampaikan materi

Keberhasilan mitigasi bencana itu tergantung pada kekuatan masyarakat untuk bersatu, bertahan hidup, memahami apa yang mempengaruhi mereka, dan mengambil aksi bersama. Selama ini terkesan bahwa pemerintah selalu menekankan ke faktor teknis dan alam dalam menghadapi bencana alam di Indonesia, akan tetapi satu faktor yang tidak kalah penting justru terlupakan, manusia itu sendiri. Jika kita menilik pada perumusan resiko sebagai hasil kali dari bahaya dan kerentanan (R=HxV), faktor V atau kerentanan kita sangatlah tinggi. Jika didefinisikan lebih lanjut, Resiko merupakan situasi yang memengaruhi kapasitas masyarakat untuk mengantisipasi, mengatasi, menolak dan memulihkan diri dari dampak bahaya alam. Lalu kerentanan merupakan rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik yang berasal dari alam ataupun buatan) yang terjadi akan mampu menimbulkan bencana atau tidak. Sedangkan bahaya merupakan potensi dampak negatif yang mampu ditimbulkan bencana alam. Dengan demikian, ragam lahan dan ruang untuk bvekerja dan tempat tinggal dari suatu individu maupun kelompok mampu memberikan berbagai tingkat peluang dan resiko bahaya yang berbeda-beda. Komunitas ataupun individu pada dasarnya lebih sering berada atau tinggal di daerah yang memiliki resiko bencana tinggi karena daerah tersebut memiliki nilai stabilitas ekonomi yang sama tingginya.

Resiko bencana berasosiasi dengan faktor sosial, politik, dan ekonomi berkontribusi kerentanan dan risiko seringkali sulit diatasi. Sehingga, dibutuhkan juga pendekatan sosiologis bukan hanya memilih untuk fokus pada alam atau teknologi saja, misalkan melalui pendekatan Pendidikan terhadap masyarakat sejak dini. Terlebih bahaya terbatasnya anggaran dana yang dimiliki oleh pemerintah dalam masalah kebencanaan. Kerentanan terhadap bahaya dan risiko tidak hanya memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi bencana, tetapi juga memengaruhi cara seseorang untuk mitigasi (peristiwa prabencana) dan pemulihan (peristiwa pasca bencana). Pada akhirnya, terdapat beberapa stimulus yang mampu dilakukan untuk  menurunkan tingkat kerentanan dari sudut pandang sosial,

  1. Mengkomunikasikan pemahaman tentang kerentanan bencana
  2. Menganalisa kerentanan bencana untuk setiap daerah dan mencakup faktor teknis, sains maupun sosial
  3. Fokus pada pengembangan riset aksi partisipatoris untuk menemukan langkah yang tepat guna dalam membangun masyarakat yang siap siaga bencana
  4. Menekankan pembangunan berkelanjutan
  5. Meningkatkan alternatif mata pencaharian
  6. Memberikan wawasan lebih tentang disaster recovery
  7. Membangun budaya keselamatan
Diskusi oleh Partisipan

Sesi terakhir merupakan sesi diskusi. Pada sesi ini terdapat beberapa yang cukup menarik yang masing-masing dikemukakan oleh partisipan. Pertama yaitu pendekatan kebencanaan secara bersama melalui aspek sosial dan teknologi mampu menghasilkan dampak yang signifikan dengan mengambil contoh mengenai kesiapsiagaan terhadap banjir di Majalaya, Kabupaten Bandung. Kemudian mengenai pendekatan Pendidikan melalui dini yang sebenarnya sudah dilakukan di semarang oleh dosen Pendidikan terhadap melalui sebuah lagu dengan aransemen yang menarik dan mudah diingat oleh anak-anak. Lalu ada juga peranan dokter dan apoteker dalam mengenai penelitian dari segi fisiologis maupun medis pada saat pra- maupun pascabencana. Diskusi yang berlangsung sekitar 30 menit ini berakhir dengan kesimpulan bahwa mungkin secara umum cukup sulit untuk mendefinisikan hal yang mampu menjadi sumbangsih diaspora dalam menghadapi bencana, tetapi jika menilik secara spesifik, setiap diaspora ini memiliki kemampuan profesi atau ilmiah masing-masing yang mampu dimaksimalkan untuk meminimalisir resiko bencana alam.

Foto Bersama Pemateri dan Peserta TGIF Januari

Shobara: Bersabar dan Bersyukur atas Karunia-Nya

Di penghujung tahun 2018 ini, beberapa cobaan datang menyapa. Pertanda Sang Pencipta masih peduli kepada diri saya. Dimulai dengan datangnya musim dingin pertama saya di Saijo, Higashihiroshima, Hiroshima, Jepang ini, yang berarti saya memerlukan kehangatan untuk dapat tetap beraktivitas seperti biasanya. Kehangatan ini sudah jelas banyak yang berasal dari luar diri, seperti: AC, sinar matahari, baju hangat, minuman hangat, makanan hangat, sampai sekedar senyuman hangat 😊

Meskipun sudah hampir sepuluh tahun saya menetap di Bandung, yang termasuk salah satu kota dengan suhu yang cukup bersahabat di Indonesia. Namun, dinginnya Saijo jauh lebih menusuk hingga ke tulang rusuk. Apato dan kasur seolah terus menggoda saya untuk tak pergi darinya di musim ini. Beruntung, saya dikelilingi oleh rekan-rekan yang juga tak lelah mengingatkan saya untuk menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Hingga saya tersadar, bahwa kehangatan pun bisa tercipta dari dalam diri walau tetap dibutuhkan orang lain untuk menginisiasinya.

Hari-hari pun berlalu, 2 kali salju menghampiri Saijo. Kedatangan pertamanya saya lewatkan begitu saja untuk menikmati keramaian di negeri tetangga. Sontak, ketika ia datang lagi saya pun tak ragu untuk berkenalan dengannya. Perkenalan singkat yang tak berlanjut dengan komunikasi intens. Saya pun berencana dan berniat untuk balik mendatanginya bersama dengan rekan-rekan 18 Kippu Saijo melalui perjalanan panjang nan melelahkan sambal menikmati arsitektur tua khas Negeri Sakura yang tersohor di Shirakawa-go. Apa lah daya, rencana tinggal lah rencana, meski niat sudah bulat, ternyata rencana Sang Pencipta jauh lebih besar dan tak terhindarkan. Saya batalkan rencana untuk menghampirinya, karena harus berbakti kepada negeri.

Namun, tak perlu waktu lama bagi saya untuk bersedih. Kesempatan untuk mendekatinya ternyata kembali terbuka, dengan cara dan jalan yang berbeda. Sekali lagi, rekan-rekan saya lah yang kembali mencoba mengobati lara yang sebenarnya tak seberapa ini. Karena masih ada waktu yang panjang bagi saya untuk berusaha mengenalnya, walaupun tidak dengan rekan-rekan yang sama.

Kali ini pada hari Sabtu, 29 Desember 2018, saya dan rekan-rekan pergi menuju Shobara, sebuah kota kecil di ujung Utara Hiroshima. Ada Ustadz Subaedy dan keluarga, yang sudah pasti akan selalu membawa kebahagiaan dengan ikutnya dua buah hati ciliknya selain tauziah-tauziahnya. Lalu, ada juga Mas Wanda beserta istrinya, yang sudah pasti akan dapat mencairkan suasana dengan segala pengalamannya sebagai wirausahawan muda yang sangat kreatif, sentuhan-sentuhan magisnya akan mengubah apapun menjadi emas, seperti telur dan adonan yang bisa diubahnya menjadi lezat tiada tara melalui Terang Bulan Soewarto ataupun tangkapan dari lensa kameranya yang mampu disulap menjadi karya-karya citra yang luar biasa. Tak lupa ada juga sahabat Adri, yang sudah pasti membantu kelancaran kami semua selama perjalanan agar tidak tersesat dengan kemampuan komunikasinya yang sungguh hebat. Kami menggunakan Highway Bus dari Hiroshima Bus Center tujuan Shobara dengan tarif ¥1,860 sekali jalan.

Kondisi Highway Bus Hiroshima – Shobara yang sangat lengang

Niat awal kami adalah menyaksikan salah satu pertunjukan iluminasi terbesar di seantero Jepang di Bihoku Hillside Park serta menumpang melewatkan hari di kediaman salah seorang WNI di daerah Shobara. Puji syukur, banyak nikmat lain yang menyertai selain tujuan utama tersebut. Ternyata, tidak hanya tempat singgah yang disediakan sahabat kami di Shobara ini, melainkan juga seluruh kehangatan yang bisa dibagi, mulai AC, sinar matahari, minuman hangat, makanan hangat, sampai sekedar senyuman hangat 😊 Tanpa baju hangat tentunya, karena kami membawa sendiri.

 

Anak-Anak bermain di Bihoku Hillside Park

 

Suasana festival iluminasi di Bihoku Hillside Park

Jika memperhatikan lagi tujuan utama saya kemari, maka tujuan utama saya juga sudah tercapai sejak di perjalanan. Saya bertemu lagi dengannya di tengah perjalanan, seolah tak ingin melewatkan kesempatan, saya usahakan untuk terus terjaga dan tak berhenti menatapnya, jika tidak boleh dikatakan kami saling menatap satu sama lain. Kami terus bersama di sepanjang perjalanan, di Bihoku Hillside Park, maupun di Shobara. Sayangnya, kami tak di tempat yang sama menghabiskan malam, karena ia harus rela menunggu di luar. Sementara itu, saya menikmati kebersamaan dengan keluarga baru di Shobara di dalam kediaman salah satu sahabat kita.

Terdapat 9 orang sahabat-sahabat terpilih untuk menikmati suasana Shobara. Mereka semua melanjutkan studinya di Prefectural University of Hiroshima, Kampus Shobara. Ada yang berasal dari Universitas Negeri Jember, ada pula yang berasal dari Universitas Andalas. Semuanya melalui jalur kerjasama antar Universitas dan disponsori oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (MEXT). Kami sangat bersyukur karena mereka semua menyambut kami dengan penuh kehangatan dan suka cita. Hidangan hangat, lezat, dan nikmat yang disuguhkan sangat luar biasa dan mengingatkan kami akan kehidupan di negeri kita tercinta Indonesia. Waktu kami habiskan untuk mengenal satu sama lain serta mencoba mengetahui banyak hal tentang Shobara, yang ternyata cukup sulit menemukan hiburan di sana. Shobara termasuk kota dengan penduduk yang tidak banyak dan dengan usia kerja yang sedikit. Tercatat hanya 35,542 jiwa penduduk yang tinggal di Shobara, dengan sekitar 42,1% merupakan penduduk dengan usia 65 tahun ke atas. Menilik data tersebut, tak heran bahwa kehidupan di Shobara tidak gemerlap dan cenderung sepi. Sektor industri utama di Shobara adalah pertanian dan peternakan, menambah alasan tak banyaknya fasilitas hiburan di kota ini.

Kebersamaan dengan sahabat di Shobara
Mentari pagi di Shobara

Jika melihat kondisi tersebut, sudah dapat dibayangkan bahwa akses transportasi tidak semudah di kota besar lainnya di Jepang. Bahkan, dari Bihoku Hillside Park ke tempat tinggal sahabat kita ini, ataupun menuju ke terminal bus Shobara, hanya bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi atau taksi. Armada taksi pun sepertinya tak banyak, dimana ini dibuktikan dengan samanya taksi dan sopir yang menjemput kami di awal kedatangan dan kepulangan. Tak perlu dibayangkan lagi sulitnya bersepeda disini. Kontur daerah yang berbukit-bukit jelas menunjukkan tantangan bagi para pengayuh sepeda, termasuk para pejuang Taguchi di Saijo. Cobaan untuk kalian tak ada artinya sama sekali bagi para sahabat di Shobara.

Tapi, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Sang Pencipta pun memberikan nikmat bagi Hamba-Nya yang sabar. Seperti pada kutipan “Man Shabara Zhafira” yang artinya barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung. Ahmad Fuadi dalam novelnya Negeri Lima Menara pun pernah menyampaikan kepada kita semua untuk tidak merisaukan penderitaan hari ini, dan menghimbau kita untuk menjalani semuanya dan melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Karena yang kita tuju bukanlah sekarang, namun ada yang lebih besar dan esensial, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup. Meskipun harus hidup di Shobara yang cukup sunyi, tetap ada kenikmatan yang bisa ditemukan oleh sahabat-sahabat kita. Harga sewa apato sampai biaya hidup yang sangat murah, menjadi sisi positif hidup di Shobara. Tak berhenti disitu, jika sahabat-sahabat kita ini bisa bersabar, maka gelar Master ataupun Doktor pun akan melekat bersama nama mereka. Gelar tersebut menandakan ilmu yang berhasil didapat dan kelak pasti akan bermanfaat untuk diri sendiri maupun masyarakat.

Saya memang tak berkunjung ke daerah tersohor seperti Osaka, Kyoto, Kobe, Kanazawa, ataupun Tokyo melainkan hanya ke Shobara, tapi kedatangan saya ini patut saya syukuri. Mengingat Shobara, mengingatkan diri saya untuk selalu bersabar dan bersyukur atas karunia-Nya. Toh, misi utama saya menyapanya berhasil saya tunaikan disini 😊

Sejujurnya, saya pernah hampir begitu dekat dengan sahabat-sahabat di Shobara ini. Karena pada awal musim panas kemarin bersama dengan rekan-rekan yang lain kami pernah berkunjung ke Bihoku Hillside Park. Tak disangka, ternyata ada sahabat yang tinggal di daerah ini. Senang rasanya akhirnya bisa bersilaturahmi dan bertemu dengan keluarga baru. Akhir kata, saya sampaikan Selamat datang di Keluarga Besar Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH) untuk sahabat-sahabat di Shobara! Semoga kita bisa terus meningkatkan ikatan persaudaraan yang erat dan berkelanjutan. Semangat dan sukses untuk kita semua! Sampai jumpa di lain kesempatan!

 

#ManShabaraZhafira
#Shobara
#PPIHBersahabat
#BersamaBersinergi

 

Shobara, 29 Desember 2018

Firly R. Baskoro

Kuliah Umum PPIH – Land Development in Indonesia

Persatuan Pelajar Indonesia – Hiroshima (PPIH) melakukan kegiatan dibidang pengembangan akademik berupa kuliah umum dengan tema Land Development in Indonesia. Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Land Development / Pengembangan lahan khususnya di Indonesia, serta sebagai wadah untuk saling bertukar pikiran dan pendapat. Adapun materi kuliah tamu ini dipaparkan oleh Bapak Prof. Ir. Haryo Winarso, M.Eng., Ph.D.

Pembukaan Kuliah Umum oleh Ketua PPI Hiroshima, Firly Baskoro.

Kegiatan kuliah tamu ini dihadiri oleh Mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Hiroshima, registrasi dimulai pukul 18.30 JST hingga pukul 19.00 JST dan dihadiri oleh kurang lebih 30 orang mahasiswa. Setelah registrasi, kegiatan dilanjutkan dengan Opening Ceremony berupa pengenalan singkat mengenai latar belakang dan data diri singkat mengenai narasumber dan sambutan oleh Ketua PPIH, Sdr. Firly R Baskoro.

Narasumber Kuliah Umum, Prof. Ir. Haryo Winarso, M.Eng., Ph.D., sedang memaparkan materi.

Kuliah tamu diawali dengan penjelasan mengenai jumlah populasi di beberapa negara berkembang yang semakin meningkat setiap tahunnya dan banyaknya pihak – pihak swasta yang melakukan pembangunan yang tidak merata sehingga masih banyak masyarakat menengah ke bawah yang tidak mendapatkan tempet tinggal yang layak akibat pemanfaatan lahan yang kurang efisien. Bentuk perencanaan pengembangan lahan yang memberikan kebebasan bagi pihak swasta untuk mendikte pembangunan akan menyebabkan segresi antara masyarakat menengah ke bawah dan masyarakat menengah ke atas dan berdampak pada berkembangnya social dualism. Dengan adanya kebebasan pengembangan lahan oleh pihak swasta memberikan dampak pembangunan yang tidak merata karena pendekatan yang dilakukan tidak memperhitungkan dengan baik antara variasi permintaan pemakai dan permintaan investor, spekulasi dalam real estate, dan segresi antara kaya dan miskin, selain itu dominasi kelas yang menyebabkan kelompok miskin yang teralienasi dari fasilitas perkotaan yang layak. Selama pemaparan materi kuliah berlangsung narasumber juga memberikan penjelasan mengenai kritik terhadap perencanaan kota yang kapitalik, pengembangan lahan dan perumahan di Indonesia, pengembangan lahan yang berpotensi mendapatkan profit (keuntungan), potensi konflik dan pentingnya kehadiran negara akibat adanya pengembangan, serta pengembangan lahan dan perumahan yang berpihak pada masyarakat miskin. Setelah pemaparan materi, peserta yang hadir dapat memberikan pertanyaan dan pendapat mengenai materi yang telah diberikan oleh narasumber.

Penyerahan sertifikat kepada narasumber.

Kuliah tamu ini diakhiri dengan pembacaan do’a Bersama yang dipimpin langsung oleh Ketua PPIH, penyerahan cenderamata dan setifikat kepada narasumber, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Foto bersama narasumber dan peserta kuliah umum.