HIA Social Gathering and Farewell Party

Kali ini, kami akan berbagi sekelumit cerita tentang Hiroshima-Indonesia Association (HIA) Social Gathering and Farewell Party yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Februari 2019 yang lalu. Sebagai pembuka, kami akan mengenalkan dahulu tentang HIA.

Hiroshima-Indonesia Association (HIA)

HIA merupakan sebuah asosiasi yang anggotanya merupakan pengusaha perseorangan maupun perusahaan bermarkas di Hiroshima yang memiliki afiliasi bisnis di Indonesia. Saat ini, HIA dipimpin oleh Mr. Kozo Tamura yang juga merupakan Presiden Direktur Hiroshima Gas Co., Ltd.

HIA rutin mengadakan pertemuan antar anggotanya 3 kali dalam satu tahun, untuk mendiskusikan perkembangan dan kelanjutan bisnisnya. Biasanya, pertemuan tersebut dilakukan pada hari Jumat pada minggu pertama bulan Februari, hari Selasa pada minggu terakhir bulan Mei, dan hari Selasa pada minggu kedua di bulan Agustus.

Dalam setiap pertemuannya, HIA selalu membagi acara ke dalam dua bagian, yaitu Social Lecture dan Social Meeting. Social Lecture dilaksanakan khusus anggota HIA saja dan umumnya membahas isu-isu terkini seputar Indonesia dan Jepang. Sementara pada Social Meeting, HIA selalu mengundang mahasiswa Indonesia (beserta keluarga tentunya, bagi yang sudah berkeluarga) untuk hadir sekaligus menyuguhkan penampilan khas Indonesia (tari-tarian atau musik) sambil dapat menyantap hidangan yang dipersiapkan oleh HIA.

Sesuai dengan judul atau nama pertemuan yang diadakan oleh HIA, yaitu Social Gathering yang terdiri dari Social Lecture dan Social Meeting, maka tujuan utama dari pelaksanaan acara ini adalah merekatkan dan memperkuat hubungan antara masyarakat Jepang dengan Indonesia yang ada di Hiroshima, khususnya bagi anggota HIA dan anggota PPI Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH). Di acara ini, seluruh partisipan saling berdiskusi dan berkomunikasi untuk saling mengenal diri maupun kebudayaan satu sama lainnya.

Nah, jadi, begitulah cerita singkat terkait HIA. Untuk penjelasan terkait HIA Social Gathering and Farewell Party yang lalu, yuk kita simak di bagian selanjutnya.

HIA Social Gathering and Farewell Party

Di acara HIA Social Gathering and Farewell Party 1 Februari 2019 kemarin, HIA mengundang seluruh anggota PPIH untuk hadir di acara Social Meeting di Century 21 Hotel Hiroshima. Tema yang diusung pada Social Lecture kali ini oleh HIA adalah Muslim Fashion. Karena tidak diundang dan mengikuti kegiatan Social Lecture, kami semua tidak mengerti dengan jelas hasil pertemuan tersebut. Meskipun demikian, mudah-mudahan dengan diambilnya tema Muslim Fashion, kebudayaan yang ada di Jepang akan semakin beragam sehingga semakin menarik bagi wisatawan maupun orang Indonesia yang akan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang, khususnya di Prefektur Hiroshima.

Acara Social Lecture tersebut berlangsung mulai pukul 17.00 – 19.00 JST di Ruang Ballroom Meeting Lantai 4 di Century 21 Hotel Hiroshima. Sementara itu, acara Social Gathering and Farewell Party sendiri berlangsung setelahnya, yaitu pukul 19.00 – 21.00 JST. Pada acara Social Gathering and Farewell Party, PPIH menyumbangkan dua buah penampilan kebudayaan yaitu musik akustik dan tarian tradisional. Dengan mempertimbangkan tema yang diusung oleh HIA pada Social Lecture, PPIH kali ini membawakan satu lagu nasyid berjudul Kamisama dari Edcoustic dan satu tarian tradisional bernama Tari Rudat dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Adapun ide penampilan tersebut muncul dari sang Ketua Divisi Sosial dan Budaya PPIH 2018/2019, yaitu Aruni Dinan Hanifa.

Lagu nasyid yang berjudul Kamisama ini dibawakan oleh Saudara M. Imron Azami (gitar) dan Saudara R. B. S. Loka (vokal). Lagu ini menceritakan bagaimana kita sebagai makhluk Tuhan dapat bersyukur atas segala kuasanya. Lagu ini sendiri dipilih karena memiliki lirik berbahasa Jepang, sehingga diharapkan para hadirin dari HIA dapat memahami musik tersebut.

Gambar 1 Penampilan Lagu Nasyid Kamisama dari Duo Imron dan Loka

Selepas penampilan lagu nasyid, PPIH langsung mempersembahkan Tari Rudat yang dibawakan dengan apik oleh M. Riam Badriana, Tony, dan Fikry Purwa Lugina. Tari Rudat ini merupakan tarian tradisional khas Lombok, yang menunjukkan keperkasaan para prajurit di daerah sana. Tari Rudat biasanya ditampilkan pada acara-acara keagamaan ataupun perayaan khitanan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lombok sendiri merupakan kota yang dikenal dengan sebutan Negeri 1000 Masjid.

Gambar 2 Penampilan Tari Rudat dari Riam, Tony, dan Ugi

Selain penampilan tersebut, HIA juga memberikan penghargaan kepada para mahasiswa Indonesia yang akan diwisuda pada periode Maret 2019 mendatang. Sambutan dari wisudawan kali ini diwakili oleh Saudara Murman Dwi Prasetio. Dalam sambutannya, Saudara Murman menceritakan pengalamannya selama di Jepang dan berharap pengalaman selama menempuh studi di Jepang dapat bermanfaat bagi seluruh wisudawan saat kembali mengabdi di negeri tercinta Indonesia.

Gambar 3 Mr. Kozo Tamura (Chairman HIA) memberikan penghargaan secara simbolis kepada Saudara Murman sebagai perwakilan wisudawan

 

 

 

Gambar 4 Keseruan acara HIA Socila Gathering and Farewell Party

 

Selamat untuk para wisudawan, semoga bisa terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Semoga teman-teman yang lain bisa menyusul untuk segera menyelesaikan studinya. Sukses untuk kita semua! Semoga hubungan yang baik antara masyarakat Indonesia dan Jepang ini dapat kita lanjutkan sehingga memberikan dampak yang nyata bagi kita semua. Aamiin.

Sampai jumpa di HIA selanjutnya dan acara-acara PPIH lainnya!

 

#PPIHBersahabat
#BersamaBersinergi

TGIF PPIH Januari – Bencana Melanda, Diaspora Bisa Apa?

TGIF PPIH kembali hadir di bulan Januari dengan topik yang masih cukup hangat di Indonesia yaitu bencana alam. Beberapa bencana alam besar terjadi di Indonesia sepanjang 2018 yang menyebabkan korban jiwa dan kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Lalu timbul pertanyaan di benak, kira-kira apa sih yang bisa dilakukan oleh diaspora terhadap bencana-bencana alam tersebut? Nah melalui TGIF PPIH ini divisi Relasi Publik PPIH ingin menghadirkan diskusi hangat nan santai untuk berusaha #BersamaBersinergi menjawab pertanyaan tersebut sekaligus meningkatkan awareness warga PPIH terhadap kebencanaan di Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan pada Jumat malam hari ini dipandu oleh saudara Gillang dan Ghiffary dari divisi relasi publik. Sekitar 10 orang datang silih berganti untuk berdiskusi santai di kegiatan ini. TGIF PPIH kali ini terdiri dari empat sesi nih teman-teman, sesi pertama merupakan pemutaran video mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018, sesi kedua berupa pemaparan materi dari Gillang mengenai kebencanaan di Indonesia, dilanjutkan dengan sesi ketiga dari Pak Subaedy tentang bencana alam dari sudut pandang sosial, dan ditutup dengan diskusi bersama untuk menjawab pertanyaan yang menjadi tema kegiatan ini. Slide dari Gillang dan Pak Subaedy bisa diunduh di Slide Gillang dan Slide Pak Subaedy.

Slide Gillang
Slide Pak Subaedy

Resume dari materi yang dipaparkan oleh Gillang kurang lebih sebagai berikut.

Sejak zaman lampau Indonesia sudah sering mengalami bencana, bahkan sejak 1990 saja sudah ada 20 bencana dengan skala cukup besar yang terjadi di Indonesia. Dari bencana-bencana tersebut, sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas vulkanik dan tektonik seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. Bencana-bencana tersebut tidak lain disebabkan karena letak geografis dan geologis Indonesia yang berada di Ring of Fire dan menjadi pertemuan dari tiga lempeng tektonik, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Indo-Australia. Peta distribusi potensi bencana yang terdapat di Indonesia kira-kira sebagai berikut

Peta Zonasi Ancaman Bencana Gempa Bumi di Indonesia (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB))

 

Peta Bahaya Tsunami di Indonesia (“A probabilistic tsunami hazard assessment for Indonesia”, N Horspool et. al., 2014)

 

Peta Bahaya Tsunami di Denpasar (Sumber: German Indonesian Tsunami Early Warning System (GITEWS))

Pemerintah Indonesia sendiri juga sudah menerapkan banyak upaya mitigasi bencana kawan-kawan, contohnya

  1. Sistem daring MAGMASistem yang dibuat oleh Kementerian ESDM ini memonitor kegiatan-kegiatan vulkanik dan tektonik yang terjadi di Indonesia secara real time. Sistem ini bisa diakses melalui situs https://magma.vsi.esdm.go.id/ maupun aplikasi “MAGMA” yang bisa diunduh melalui playstore.

    Halaman Muka Situs MAGMA
  2. Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS)

INATEWS merupakan sistem peringatan dini tsunami yang berada dibawah BMKG. Sistem ini dibangun sejak Gempa Bumi dan Tsunami Aceh 2004 yang menelan ratusan ribu juta jiwa dan menerpa beberapa negara sekaligus.

Sistem Kerja INATEWS (Sumber: Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG))

Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sensor yang mendeteksi pergerakan lempeng tektonik di dasar Samudera. Sensor ini lalu mentransmisikan data melalui perantara buoy  di permukaan laut dan satelit ke Kantor Pusat BMKG yang selanjutnya menginformasikan himbauan pada masyarakat. Data tersebut juga digunakan sebagai data masukan untuk simulasi numerik tsunami untuk melakukan prediksi awal mengenai seberapa parah dampak yang mampu ditimbulkan oleh tsunami saat sebuah gempa terjadi. Namun patut diketahui bahwa sistem ini hanya mampu bekerja untuk tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi, oleh karena itu dua kasus tsunami yang terjadi tahun kemarin tidak mampu terprediksi karena pembangkit tsunami yang berbeda yaitu longsoran bawah laut untuk Tsunami Palu dan aktivitas vulkanik untuk Tsunami Selat Sunda.

 

Indonesia juga sudah memiliki sistem koordinasi pasca bencana terjadi yang cukup sistematis nih teman-teman walaupun pada pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala. Berikut diagramnya,

Mekanisme Koordinasi Manajemen Bencana di Indonesia (Sumber: BNPB)
Hirarki Manajemen Bencana di Indonesia (Sumber: JICA, 2012)

Dengan upaya mitigasi bencana yang cukup canggih dan sistem manajemen bencana yang sistematis, lalu kenapa masih banyak korban harta bahkan jiwa di setiap kejadian bencana ya. Kalau menurut Gillang sendiri terdapat faktor-faktor penyebab hal tersebut, diantaranya

  1. Kurangnya perawatan teknologi sistem peringatan dini yang digunakan Indonesia.
  2. Terbatasnya metode yang digunakan pada sistem peringatan dini di Indonesia.
  3. Kompleksnya mekanisme pemerintah dalam menganggarkan biaya untuk melakukan peningkatan dan perawatan teknologi sistem peringatan dini.
  4. Dan yang paling penting, masih rendahnya kesadaran masyarakan terhadap bencana dan kemampuan adaptasi masyarakat saat bencana terjadi.

Lalu resume dari materi yang disampaikan oleh Pak Subaedi yaitu sebagai berikut.

Pak Subaedy sedang menyampaikan materi

Keberhasilan mitigasi bencana itu tergantung pada kekuatan masyarakat untuk bersatu, bertahan hidup, memahami apa yang mempengaruhi mereka, dan mengambil aksi bersama. Selama ini terkesan bahwa pemerintah selalu menekankan ke faktor teknis dan alam dalam menghadapi bencana alam di Indonesia, akan tetapi satu faktor yang tidak kalah penting justru terlupakan, manusia itu sendiri. Jika kita menilik pada perumusan resiko sebagai hasil kali dari bahaya dan kerentanan (R=HxV), faktor V atau kerentanan kita sangatlah tinggi. Jika didefinisikan lebih lanjut, Resiko merupakan situasi yang memengaruhi kapasitas masyarakat untuk mengantisipasi, mengatasi, menolak dan memulihkan diri dari dampak bahaya alam. Lalu kerentanan merupakan rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik yang berasal dari alam ataupun buatan) yang terjadi akan mampu menimbulkan bencana atau tidak. Sedangkan bahaya merupakan potensi dampak negatif yang mampu ditimbulkan bencana alam. Dengan demikian, ragam lahan dan ruang untuk bvekerja dan tempat tinggal dari suatu individu maupun kelompok mampu memberikan berbagai tingkat peluang dan resiko bahaya yang berbeda-beda. Komunitas ataupun individu pada dasarnya lebih sering berada atau tinggal di daerah yang memiliki resiko bencana tinggi karena daerah tersebut memiliki nilai stabilitas ekonomi yang sama tingginya.

Resiko bencana berasosiasi dengan faktor sosial, politik, dan ekonomi berkontribusi kerentanan dan risiko seringkali sulit diatasi. Sehingga, dibutuhkan juga pendekatan sosiologis bukan hanya memilih untuk fokus pada alam atau teknologi saja, misalkan melalui pendekatan Pendidikan terhadap masyarakat sejak dini. Terlebih bahaya terbatasnya anggaran dana yang dimiliki oleh pemerintah dalam masalah kebencanaan. Kerentanan terhadap bahaya dan risiko tidak hanya memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengatasi bencana, tetapi juga memengaruhi cara seseorang untuk mitigasi (peristiwa prabencana) dan pemulihan (peristiwa pasca bencana). Pada akhirnya, terdapat beberapa stimulus yang mampu dilakukan untuk  menurunkan tingkat kerentanan dari sudut pandang sosial,

  1. Mengkomunikasikan pemahaman tentang kerentanan bencana
  2. Menganalisa kerentanan bencana untuk setiap daerah dan mencakup faktor teknis, sains maupun sosial
  3. Fokus pada pengembangan riset aksi partisipatoris untuk menemukan langkah yang tepat guna dalam membangun masyarakat yang siap siaga bencana
  4. Menekankan pembangunan berkelanjutan
  5. Meningkatkan alternatif mata pencaharian
  6. Memberikan wawasan lebih tentang disaster recovery
  7. Membangun budaya keselamatan
Diskusi oleh Partisipan

Sesi terakhir merupakan sesi diskusi. Pada sesi ini terdapat beberapa yang cukup menarik yang masing-masing dikemukakan oleh partisipan. Pertama yaitu pendekatan kebencanaan secara bersama melalui aspek sosial dan teknologi mampu menghasilkan dampak yang signifikan dengan mengambil contoh mengenai kesiapsiagaan terhadap banjir di Majalaya, Kabupaten Bandung. Kemudian mengenai pendekatan Pendidikan melalui dini yang sebenarnya sudah dilakukan di semarang oleh dosen Pendidikan terhadap melalui sebuah lagu dengan aransemen yang menarik dan mudah diingat oleh anak-anak. Lalu ada juga peranan dokter dan apoteker dalam mengenai penelitian dari segi fisiologis maupun medis pada saat pra- maupun pascabencana. Diskusi yang berlangsung sekitar 30 menit ini berakhir dengan kesimpulan bahwa mungkin secara umum cukup sulit untuk mendefinisikan hal yang mampu menjadi sumbangsih diaspora dalam menghadapi bencana, tetapi jika menilik secara spesifik, setiap diaspora ini memiliki kemampuan profesi atau ilmiah masing-masing yang mampu dimaksimalkan untuk meminimalisir resiko bencana alam.

Foto Bersama Pemateri dan Peserta TGIF Januari

Kuliah Umum PPIH – Land Development in Indonesia

Persatuan Pelajar Indonesia – Hiroshima (PPIH) melakukan kegiatan dibidang pengembangan akademik berupa kuliah umum dengan tema Land Development in Indonesia. Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Land Development / Pengembangan lahan khususnya di Indonesia, serta sebagai wadah untuk saling bertukar pikiran dan pendapat. Adapun materi kuliah tamu ini dipaparkan oleh Bapak Prof. Ir. Haryo Winarso, M.Eng., Ph.D.

Pembukaan Kuliah Umum oleh Ketua PPI Hiroshima, Firly Baskoro.

Kegiatan kuliah tamu ini dihadiri oleh Mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Hiroshima, registrasi dimulai pukul 18.30 JST hingga pukul 19.00 JST dan dihadiri oleh kurang lebih 30 orang mahasiswa. Setelah registrasi, kegiatan dilanjutkan dengan Opening Ceremony berupa pengenalan singkat mengenai latar belakang dan data diri singkat mengenai narasumber dan sambutan oleh Ketua PPIH, Sdr. Firly R Baskoro.

Narasumber Kuliah Umum, Prof. Ir. Haryo Winarso, M.Eng., Ph.D., sedang memaparkan materi.

Kuliah tamu diawali dengan penjelasan mengenai jumlah populasi di beberapa negara berkembang yang semakin meningkat setiap tahunnya dan banyaknya pihak – pihak swasta yang melakukan pembangunan yang tidak merata sehingga masih banyak masyarakat menengah ke bawah yang tidak mendapatkan tempet tinggal yang layak akibat pemanfaatan lahan yang kurang efisien. Bentuk perencanaan pengembangan lahan yang memberikan kebebasan bagi pihak swasta untuk mendikte pembangunan akan menyebabkan segresi antara masyarakat menengah ke bawah dan masyarakat menengah ke atas dan berdampak pada berkembangnya social dualism. Dengan adanya kebebasan pengembangan lahan oleh pihak swasta memberikan dampak pembangunan yang tidak merata karena pendekatan yang dilakukan tidak memperhitungkan dengan baik antara variasi permintaan pemakai dan permintaan investor, spekulasi dalam real estate, dan segresi antara kaya dan miskin, selain itu dominasi kelas yang menyebabkan kelompok miskin yang teralienasi dari fasilitas perkotaan yang layak. Selama pemaparan materi kuliah berlangsung narasumber juga memberikan penjelasan mengenai kritik terhadap perencanaan kota yang kapitalik, pengembangan lahan dan perumahan di Indonesia, pengembangan lahan yang berpotensi mendapatkan profit (keuntungan), potensi konflik dan pentingnya kehadiran negara akibat adanya pengembangan, serta pengembangan lahan dan perumahan yang berpihak pada masyarakat miskin. Setelah pemaparan materi, peserta yang hadir dapat memberikan pertanyaan dan pendapat mengenai materi yang telah diberikan oleh narasumber.

Penyerahan sertifikat kepada narasumber.

Kuliah tamu ini diakhiri dengan pembacaan do’a Bersama yang dipimpin langsung oleh Ketua PPIH, penyerahan cenderamata dan setifikat kepada narasumber, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Foto bersama narasumber dan peserta kuliah umum.

Laporan Keuangan PPIH Bulan Desember 2018

Dear rekan-rekan yang kami hormati.

Musim dingin telah tiba, liburan pun telah usai. Berikut disampaikan laporan keuangan bulanan kas PPI Hiroshima untuk periode Desember 2018. Kami mengucapkan terima kasih banyak atas partisipasi seluruh pihak yang terlibat, khususnya yang sudah membayar iuran anggota, kami terus menunggu rekan-rekan yang lain untuk pembayaran iuran anggota 🙂

Sampai jumpa di bulan selanjutnya!

Rekrutmen Terbuka Tim Persiapan dan Pemilihan Ketua PPI Hiroshima Periode 2018/2019

Kirimkan CV singkat ke sekretariat PPI Hiroshima (sekretariat[at]hiroshima.ppijepang.com) dan Kordinator PPI Korda Chugoku (wahyudin_sasmita[at]yahoo.co.id) paling lambat Jumat, 31 Agustus 2018 jam 23.59 JST. Anggota tim akan diumumkan paling lambat tanggal 3 September 2017.

Syarat Tim Persiapan dan Pemilihan Ketua PPI Hiroshima:
1) Berkebangsaan Indonesia.
2) Anggota Aktif/Biasa PPI Hiroshima.
3) Sehat Fisik, Jasmani dan Rohani.
4) Sedang/Berkuliah dan Menetap di Wilayah Higashihiroshima sampai pelaksanaan kegiatan berlangsung.
5) Bersedia tidak mencalonkan diri sebagai Ketua Komisariat Hiroshima periode 2018/2019.

Deskprisi tugas:

1) Menyelenggarakan pemilihan umum Ketua PPIH Periode 2018/2019 dari tahap persiapan sampai pemilihan.
2) Memimpin jalannya Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Komsat Hiroshima Periode 2017/2018.
3) Membuat laporan jalannya pemilihan umum mulai dari tahap persiapan sampai terpilihnya ketua komsat Hiroshima periode 2018/2019.

Sifat: Independen

Berlaku: 1 bulan sejak dikeluarkannya SK