Kuliah Tamu PPIH – Refleksi Sejarah 400 Tahun Hubungan Indonesia-Jepang

Dalam kuliah umum kali ini dibahas tentang salah satu perjumpaan masyarakat nusantara dengan orang Jepang. Dalam cerita dari pulau Banda ini dicatat bahwa para samurai tak bertuan dari jepang dipekerjakan oleh badan usaha milik kerajaan Belanda yang saat itu dikepalai oleh J.P. Coen. Para samurai ini diberi tugas untuk membantai para pembesar, bangsawan dan orang yang dianggap terlibat dalam pembantaian orang Belanda beberapa tahun sebelumnya yang hampir merenggut nyawa J.P. Coen. Para korban (masyarakat pulau Banda) dimutilasi menjadi beberapa potongan dan digunakan sebagai peringatan pada masyarakat pulau Banda agar takut dan takluk pada pemerintah pendudukan kerajaan Belanda. Latar belakang dipakainya para “ronin” atau samurai tanpa tuan ini karena murah dan mudah perawatannya (konon berdasarkan catatan kerajaan Belanda), hanya memerlukan lauk ikan asin. Efisiensi dari perawatan pasukan bayaran ini tidak mengurangi efektifitasnya dalam membantai warga Banda. Pada kuliah umum ini dihadiri puluhan masyarakat Indonesia yang terdiri dari siswa sekolah-mahasiswa-keluarga mahasiswa dan beberapa pekerja, bahkan ada seorang mahasiswa pasca sarjana asal Jepang yang menguasai Bahasa melayu turut menyimak kuliah ini.

Kuliah yang berlangsung selama kurang lebih satu jam ini berisi pemaparan materi oleh pemateri dan diselingi dengan tanya jawab, dimana setiap kesempatan tanya jawab diberikan tiga kesempatan untuk para peserta yang ingin pertanyaan. Selaku pemateri adalah ibu Meta Sekar Astuti, Ph.D, beliau adalah dosen di Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanudin, Makassar. Topik utama penelitian beliau adalah hubungan Indonesia-Jepang. Kembali ke materi kuliah umum, pada kenyataanya ternyata bangsa Jepang telah berdagang berbagai produk terutama obat-obatan yang dapat diandalakan dengan harga murah hingga ke pelosok daerah nusantara (saat itu masih bernama Hindia Belanda) dengan berjalan kaki. Beberapa produk yang saat itu diperdagangkan masih dijual hingga sekarang, tentunnya dengan improvisasi dan modenisasi pada lini produksinya. Status warga negara jepang yang pada saat itu disetarakan dengan warga kulit putih akhirnya membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak dapat mengatur pergerakan warga Jepang di Indonesia dengan ketat. Berdasarkan catatan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan yang tinggi (setara warga kulit putih) tidak membatasi para pedagang dari Jepang untuk memasarkan produk-produknya hingga ke penjuru pedalaman wilayah jajahan Belanda. Jejak sejarah dalam bentuk foto akan bangunan yang sempat digunakan pedagang Jepang untuk menanamkan gaya berbelanja modern pun masih dapat disimpan dengan baik. Pada akhirnya, kuliah tentang hubungan kepulauan nusantara dengan Bangsa Jepang yang dilaksanakan di salah satu ruangan seminar fakultas Sastra Universitas Hiroshima dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia adalah suatu penyegaran rasa cinta tanah air di perantauan yang jauh dan sebagai upaya untuk tetap mengingat bahwa sebagai warga negara Indonesia jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Sambutan oleh Ketua PPI Hiroshima
Penyampaian Materi
Penyampaian Materi (2)
Antusiasme Peserta
Sesi Tanya Jawab
Sesi Tanya Jawab (2)
Sesi Tanya Jawab (3)
Foto Bersama di Penghujung Kegiatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *