Kuliah Umum PPIH – APBN dan Pengisian SPT

Salah satu agenda PPI Hiroshima yang menjadi tanggung jawab sie akademik adalah mengadakan kuliah umum-kuliah umum yang menyajikan tema-tema menarik dengan materi yang baik dan disampaikan oleh pembicara yang berkompeten di bidangnya. Pada kesempatan kali ini yang bertepatan dengan hari Sabtu, maka dilaksanakan kuliah umum yang mengangkat tema APBN 2019. Kegiatan yang bertempat di Free Space Daigaku Kaikan-mae lantai 2 ini tidak hanya membicarakan mengenai APBN itu sendiri, namun dilanjutkan dengan praktik pengisian SPT tahunan secara langsung. Bentuk acara yang dibuat dalam dua sesi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang nyaman serta menghindarkan para pendengar dari kebingungan dalam mengikuti kuliah umum ini. Susunan acara yang terdiri dari dua rangkaian acara, dimana satu bagian bersifat teori dilanjutkan acara yang sifatnya praktek secara langsung diharapkan menjadi terobosan agar acara yang dihadirkan ke tengah-tengah pendengar tidak membosankan dan lebih mudah diingat  kedepannya.

Materi pertama yang membawa tema APBN dan Perpajakan disampaikan selama 45 menit termasuk sesi tanya jawab. Materi yang menarik ini  disampaikan oleh bapak Widdy M. S. Wibawa dan yang berperan sebagai moderator adalah saudara Bintan Y. Wiratama. Materi tentang APBN ini dimulai dengan informasi bahwa informasi APBN 2019 yang berformat pdf merupakan dokumen terbuka, yang artinya siapa pun yang memiliki keingintahuan tentang rincian APBN 2019 ini dapat mengunduhnya secara langsung, tanpa suatu izin tertentu. APBN 2019 memiliki nafas yang berbeda dengan APBN yang dirancang pada tahun-tahun sebelumnya, sebab APBN 2019 menitikberatkan pada faktor pembangunan sumber daya manusia dan mendorong investasi. Apabila merunut pada APBN pada tahun-tahun sebelumnya, maka fokusnya adalah pada pembangunan infrastruktur dan sarana-prasarana penunjang kegiatan ekonomi. Sebelum membahas apa saja yang menjadi titik penting dalam APBN 2019, maka sekilas disampaikan alur penyusunan hingga APBN 2019 dapat terbit seperti sekarang ini. Proses pertama yang dilalui adalah pada Januari 2018 ditentukan arah kebijakan dan prioritas pembangunan nasional, setelah arah kebijakan dan prioritas nasional ditentukan, maka pada Maret 2018 dibuatlah resource envelope. Resource envelope atau kapasitas fiskal adalah kemampuan keuangan negara yang
dihimpun dari pendapatan negara untuk mendanai anggaran belanja negara yang meliputi belanja kementerian atau lembaga dan belanja non kementerian atau lembaga. Setelah kapasitas fiskal ditentukan maka pada 18 Mei 2018 dilakukan pengajuan pokok-pokok kebijakan fiskal, kerangka ekonomi makro dan rencana kerja pemerintah (RKP) ke DPR. Pada tanggal 16 April 2018 dikeluarkan surat bersama pagu indikatif dan rancangan rencana kerja pemerintah. Setelah surat bersama tersebut terbit maka disusul dibuatlah surat bersama pagu anggaran dan penyelesaian penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga (RKA-K/L) oleh kementerian atau
lembaga pada 19 Juli 2018. Setelah kurang lebih sebulan berikutnya maka Presiden mengajukan RAPBN yang dilengkapi dengan RUU dan nota keuangan dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2018 di depan anggota dewan. Tanggal 23 November 2018 terbit UU nomor 12 tahun 2018 tentang APBN 2019, selanjutnya pada 31 Oktober 2018 dilakukan sidang paripurna penetapan APBN 2019. Setelah sidang paripurna penetapan APBN 2019 maka pada tanggal 29 November 2018 terbitlah peraturan presiden nomor 129 tahun 2018 tentang rincian APBN tahun anggaran 2019. Tahap akhir perjalanan APBN 2019 sebelum dilaksanakan adalah penetapan dan penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA).

APBN 2019 membawa jargon sehat, adil dan mandiri, maksudnya adalah anggaran yang disusun ini memiliki kemampuan antisipatif dan fleksibel dalam menghadapi dinamika perekonomian global. APBN 2019 merupakan anggaran belanja dengan defisit anggaran terendah semenjak 2013 dengan keseimbangan primer mendekati Rp 0. Negara secara terus menerus berusaha meningkatkan produktifitas belanja dengan cara reformasi belanja, yaitu negara fokus untuk mendukung daya saing, ekspor dan investasi. Selain reformasi belanja, negara melakukan penguatan value for money. Rencana-rencana tersebut dilaksanakan dengan memperkuat sinergi antara pusat dan daerah sehingga dapat meningkatkan transparansi transaksi dan laporan keuangan yang akuntabel. Untuk membiayai berbagai pembangunan dalam rangka meningkatkan kemajuan kehidupan bangsa maka penerimaan negara terus dioptimalkan namun tetap realistis. Optimalisasi penerimaan negara tetap mengedepankan iklim usaha dan investasi yang menarik bagi investor dan pelaku usaha pada setiap strata. Optimasi penerimaan negara juga ditopang dengan peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNPB) melalui peningkatan layanan dan tata kelola. Proyeksi belanja negara juga berfokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana alam, terutama di provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam upaya untuk meningkatkan ketahanan nasional dalam mengatasi bencana, maka penguatan pemerintah daerah dilakukan hingga menyentuh tingkat kelurahan.

Hal-hal yang baru dan strategis dalam APBN 2019 salah satunya adalah penguatan bidang kesehatan melalui penurunan stunting dengan cara intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif pada 160 kabupaten/kota. Penguatan keluarga harapan (PKH) menjadi perhatian khusus, yaitu peningkatan besaran manfaat pada komponen pendidikan dan kesehatan. Salah satu hal yang baru yaitu tax  expenditure. Tax expenditure adalah insentif pajak sebagai bentuk transfer sumberdaya kepada publik berupa pengurangan kewajiban pajak untuk mendukung daya saing industri nasional dan mendorong hilirisasi industri.

Salah satu asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2019 adalah lifting minyak. Lifting minyak merujuk pada besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk membawa satu barrel minyak bumi ke permukaan tanah dari perut bumi atau disebut sebagai rata rata biaya produksi minyak mentah, merupakan salah satu  parameter ekonomis yang dapat dijadikan sebagai indikator penting terhadap potensi keuntungan dari produksi dari suatu ladang minyak. Angka lifting minyak yang terus menurun tidak
sebanding dengan meningkatnya kebutuhan minyak, kenyataan ini membuat besaran lifting minyak menjadi faktor penting dalam menyusun postur ekonomi makro. Nilai tukar rupiah tidak dapat dilupakan dalam membuat gambaran ekonomi makro yang nyata, nilai rupiah yang terus terdesak hingga mencapai RP 14.248 per dollar Amerika menjadi salah satu timbulnya sentimen negatif pada perekonomian nasional, dalam APBN ini diprediksi nilai rupiah akan kembali merosot ke angka Rp 15.000 per dollar Amerika.

Dalam rangka menyusun anggaran belanja yang realistis dan handal, maka keadaan perekonomian global juga menjadi refleksi dalam menyusun APBN ini. Perekonomian global yang menjadi acuan salah satunya adalah moderasi Tiongkok. Moderasi Tiongkok adalah perlambatan ekonomi negara tersebut. Negara tersebut biasanya mencatatkan angka pertumbuhan 2 digit setiap tahunnya, namun di tahun ini proyeksi pertumbuhannya tidak seoptimis sebelumnya. Pertumbuhan yang melambat tersebut disebabkan oleh perang dagang antara Amerika dan Tiongkok, perang dagang ini juga diperkeruh dengan ketegangan geopolitik. Dalam tubuh Amerika sendiri terjadi normalisasi moneter, sehingga Amerika dapat meningkatkan tekanan pasar keuangan global.

APBN 2019 yang membawa jargon adil, sehat dan mandiri menjaga defisit anggaran pada angka 1,84% dengan primary balance mendekati Rp 0. Primary balance adalah total pendapatan negara dikurangi total pengeluaran tanpa menambahkan besaran kewajiban pembayaran utang. Jargon mandiri digunakan dalam APBN 2019 sebab komponen pajak sendiri menutup 82,5% dari anggaran negara. Sedangkan sisanya ditutup dengan penerimaan negara bukan pajak sebesar 17,5% dan penerimaan hibah sebesar 0,4%.

Sesi kedua kuliah umum diisi dengan pengisian SPT tahunan yang dilakukan melalui web site resmi kementerian keuangan secara langsung. Sebelum mengisi SPT secara on-line maka dilakukan simulasi dengan SPT yang sudah dicetak. Kegiatan pengisian SPT ini berlangsung selama satu jam dan dipandu langsung oleh bapak Endra Iraman dan didampingi langsung oleh bapak Widdy M. S. Wibawa. Acara ini dilakukan dengan kerja langsung, secara bersama-sama dijelaskan setiap item yang
ada dalam surat tersebut, termasuk kiat-kiatnya. Penjelasan yang detail namun tetap sederhana ini membuat acara menjadi cair dan dipenuhi canda tawa namun tetap serius, sebab di dalam surat tersebut terdapat beberapa bagian yang perlu dicermati
agar tidak dobel dalam membayar pajak. Setelah simulasi pengisian SPT cetak, maka dilanjutkan pengisian SPT on-line , namun sayangnya alamat yang dituju tidak aktif, mungkin karena hari libur, sehingga web tersebut tidak aktif.

Acara diakhiri dengan penyerahan sertifikat pemateri kepada bapak Endra Iraman dan bapak Widdy M. S. Wibawa oleh ketua PPI Hiroshima.

Penyerahan sertifikat dari ketua PPIH kepada pemateri Bapak Endra Iraman (atas) dan Bapak Widdy M.S. Wibawa (bawah(.

KELAS FOTOGRAFI DAN VIDEOGRAFI PPIH FEBRUARI

Fotografi dan videografi mempunyai daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Banyak diantara mereka yang menjadikannya sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau bahkan tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai sarana menghasilkan pundi-pundi uang. Berbagai kalangan pun, dari kawula muda hingga tua, sangat menyukai kegiatan-kegiatan tersebut terutama fotografi termasuk para warga baik nonpelajar maupun pelajar yang ada di Hiroshima. Oleh karena itu, untuk mewadahi minat mereka, Divisi Minat dan Bakat PPIH mengadakan Kelas Fotografi dan Videografi #1.

Kelas Fotografi dan Videografi yang dilaksanakan pada hari Senin, 11 Februari 2019 di IDEC ruang 806 ini merupakan kelas pembuka dimana para peserta belajar mengenai teknik dasar fotografi dan videografi. Kedua kelas tersebut diadakan secara terpisah namun dibersamai oleh tutor yang sama yaitu Saudara Wanda P. Reysandi. Kelas pertama adalah Kelas Fotografi yang dimulai pukul 10.15-12.15 dan dilanjutkan dengan Kelas Videografi yang dimulai pukul 13.00-15.00. Masing-masing kelas diikuti oleh 13 peserta.

Tutor sedang menyampaikan materi

Tutor menyampaikan materi yang dilanjutkan dengan tanya jawab dan diikuti oleh praktik langsung mengenai materi yang disampaikan. Ada empat poin penting yang disampaikan di Kelas Fotografi yaitu triangle photography (ISO, F/Aperture, dan Shutter Speed), lighting (front, side, backlighting, dan lighting source), komposisi (angle dan framing position), dan editing (contrast, texture, dan tone). Sedangkan untuk Kelas Videografi, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan video yaitu pre-produksi (story telling), pada saat produksi (moving dan angle), dan editing (cut to cut dan colouring).

Praktek fotografi

Kelas Fotografi dan Videografi yang selanjutnya akan dilaksanakan di luar ruangan dimana peserta akan langsung praktik “hunting” foto dan video di sekitar area Hiroshima University. So, nantikan dan ikuti kelas berikutnya ya.

Para peserta berfoto di akhir kegiatan

TGIF PPIH Februari – Romantisme Indonesia dan Jepang

TGIF PPIH hadir di bulan Februari dengan mengangkat topik seputar hubungan antara Indonesia dan Jepang yang dirangkum dalam tajuk “Romantisme Indonesia-Jepang”. Pada sesi kali ini, pemateri merupakan Maria Gustini dan Reza Rustam yang memang keduanya sedang mendalami studi dengan bidang yang sangat berhubungan dengan topik di Graduate School of Letters, Hiroshima University.

Kegiatan yang dilakukan pada Jumat malam hari di IDEC Room 805 ini dipandu oleh saudara Gillang dari divisi relasi publik. Sekitar 10 orang datang secara silih berganti untuk berdiskusi santai di kegiatan ini. TGIF PPIH kali ini terdiri dari tiga sesi, sesi pertama berupa pemaparan materi dari Maria mengenai Hubungan Indonesia dengan Jepang di masa modern, dilanjutkan dengan sesi kedua yang membahas Hubungan Indonesia dan Jepang di masa lampau khususnya awal abad 20, dan diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab mengenai topik TGIF kali ini

Slide Maria

Presentasi materi oleh Maria

Slide Reza

Presentasi materi oleh Reza

Resume dari materi yang dipaparkan oleh Maria kurang lebih sebagai berikut.

Mulai dari awal abad 20, Jepang menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan di Asia dengan beberapa penaklukan terhadap Korea, China, dan Asia Tenggara. Seiring dengan pecahnya Perang Dunia Dua, kita sama-sama tahu jika Jepang berkuasa atas Indonesia dalam kurun waktu 3,5 tahun. Pasca Perang Dunia, hubungan antara Indonesia dan Jepang dapat dikategorikan dalam tiga era, 1) Era Orde Lama dimana Indonesia masih mencari pengakuan kedaulatan dari negara lain, 2) Era Orde Baru dimana Indonesia membuka kesempatan investasi asing selebar-lebarnya termasuk dari Jepang, dan 3) Era Reformasi dimana Indonesia memperluas kerjasama di bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pariwisata. Khusus mengenai awal mula perkembangan Bahasa Jepang di Indonesia, Bandung merupakan tempat dimana kelas Bahasa Jepang pertama dibuka oleh Douwes Dekker pada 8 Maret 1934). Pembelajaran Bahasa Jepang terus berkembang di Indonesia hingga saat ini terdapat 7 universitas yang memiliki jurusan Bahasa Jepang dan banyak sekolah Bahasa Jepang yang tersebar di pelbagai daerah di Indonesia.

Pelopor Guru Bahasa Jepang yang dikirim ke Indonesia (Sumber: Sumio Aoki)

Lalu resume dari materi yang disampaikan oleh Reza yaitu sebagai berikut.

Terdapat 3 catatan sejarah yang bisa digunakan sebagai sumber utama untuk mengetahui keberadaan orang Jepang di Hindia Belanda, ketiga buku tersebut yaitu

  1. Jagatara Kanwa – Ran’in Jidai Hojin no Ashiato (1968) : Obrolan-Obrolan di Jagatara – Jejak Orang Jepang di hindia Belanda, memuat 57 catatan tentang kegiatan perekonomian di NEI yang di tulis oleh anggota perkumpulan.
  2. Jagatara Kanwa – Ran’in Jidai Hojin no Ashiato (1978) edisi revisi, memuat daftar toko jepang, hubungan dagang 1938 dan 1939, peta kota batavia, bandung dan jogja. tetapi menghilangkan bagian toko pangkas rambut.
  3. Shashin de Tsuzuru Ran’in Seikatsu Hanseiki – Senzeki Indonesia no Nihonjin Shakai : Setengah abad kehidupan di hindia belanda dalam foto

Sumber: JACAR (Japan Center for Asian Historical Records) Ref.B10070590800

Pada awal tahun 1920-an, keberadaan para pelacur Jepang yang biasa disebut Karayuki-San banyak terkonsentrasi di kota-kota yang menjadi pusat perekonomian Hindia Belanda seperti Medan dan kota-kota di wilayah pantai timur pulau Sumatra, Batavia dan Surabaya. Pada masa itu, salah satu jalan yang menjadi pusat hiburan di kota Surabaya dikenal dengan sebutan Kembang Jepun karena keberadaan para pelacur wanita Jepang tersebut. Karayuki-San ini menandakan bahwa lokasi tersebut pada masa itu merupakan pusat perdagangan. Secara khusus, konflik-konflik yang terjadi antara China dan Jepang memiliki andil terhadap hubungan warga Jepang dan warga China yang sudah terlebih dahulu menetap di Hindia Belanda. Pada tahun 1923 dan 1928 terjadi peristiwa pemboikotan barang-barang Jepang oleh pedangang China. Secara umum banyak bukti sejarah tertulis yang mencantumkan gambar-gambar aktivitas perdagangan Jepang di Asia Tenggara pada masa pra pendudukan Jepang. Sebelum Jepang memulai invasi ke Hindia Belanda, tepatnya pada November 1941, Pemerintah Jepang memerintahkan Kapal Fujimaru untuk berlabuh dan mengangkut orang-orang Jepang di Hindia Belanda.

Karayuki San

Foto-Foto Toko Jepang dan Becak yang dibuat oleh Pengrajin Jepang

Studio Foto atau Toko Jepang di Asia Tenggara

Partisipan tampak serius mengikuti sharing materi TGIF PPIH

Sesi terakhir merupakan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini terdapat beberapa pertanyaan yang cukup menarik yang masing-masing dikemukakan oleh partisipan. Pertama yaitu mengenai minimnya bukti-bukti fisik keberadaan Jepang sebelum masa pendudukan Jepang. Lalu juga mengenai bukti sejarah yang mengatakan bahwa Ada 10 orang Jepang terbunuh dalam insiden di Hindia Belanda pada abad 16 atau 17 masehi dan beberapa fakta lain mengenai hubungan Jepang dan Indonesia juga diungkapkan, termasuk mengenai Paradigma orang asing terhadap “Budaya” di Jepang yang ternyata tidak benar.

Sesi diskusi dan tanya jawab

Foto bersama di penghujung TGIF PPIH Februari

HIA Social Gathering and Farewell Party

Kali ini, kami akan berbagi sekelumit cerita tentang Hiroshima-Indonesia Association (HIA) Social Gathering and Farewell Party yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Februari 2019 yang lalu. Sebagai pembuka, kami akan mengenalkan dahulu tentang HIA.

Hiroshima-Indonesia Association (HIA)

HIA merupakan sebuah asosiasi yang anggotanya merupakan pengusaha perseorangan maupun perusahaan bermarkas di Hiroshima yang memiliki afiliasi bisnis di Indonesia. Saat ini, HIA dipimpin oleh Mr. Kozo Tamura yang juga merupakan Presiden Direktur Hiroshima Gas Co., Ltd.

HIA rutin mengadakan pertemuan antar anggotanya 3 kali dalam satu tahun, untuk mendiskusikan perkembangan dan kelanjutan bisnisnya. Biasanya, pertemuan tersebut dilakukan pada hari Jumat pada minggu pertama bulan Februari, hari Selasa pada minggu terakhir bulan Mei, dan hari Selasa pada minggu kedua di bulan Agustus.

Dalam setiap pertemuannya, HIA selalu membagi acara ke dalam dua bagian, yaitu Social Lecture dan Social Meeting. Social Lecture dilaksanakan khusus anggota HIA saja dan umumnya membahas isu-isu terkini seputar Indonesia dan Jepang. Sementara pada Social Meeting, HIA selalu mengundang mahasiswa Indonesia (beserta keluarga tentunya, bagi yang sudah berkeluarga) untuk hadir sekaligus menyuguhkan penampilan khas Indonesia (tari-tarian atau musik) sambil dapat menyantap hidangan yang dipersiapkan oleh HIA.

Sesuai dengan judul atau nama pertemuan yang diadakan oleh HIA, yaitu Social Gathering yang terdiri dari Social Lecture dan Social Meeting, maka tujuan utama dari pelaksanaan acara ini adalah merekatkan dan memperkuat hubungan antara masyarakat Jepang dengan Indonesia yang ada di Hiroshima, khususnya bagi anggota HIA dan anggota PPI Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH). Di acara ini, seluruh partisipan saling berdiskusi dan berkomunikasi untuk saling mengenal diri maupun kebudayaan satu sama lainnya.

Nah, jadi, begitulah cerita singkat terkait HIA. Untuk penjelasan terkait HIA Social Gathering and Farewell Party yang lalu, yuk kita simak di bagian selanjutnya.

HIA Social Gathering and Farewell Party

Di acara HIA Social Gathering and Farewell Party 1 Februari 2019 kemarin, HIA mengundang seluruh anggota PPIH untuk hadir di acara Social Meeting di Century 21 Hotel Hiroshima. Tema yang diusung pada Social Lecture kali ini oleh HIA adalah Muslim Fashion. Karena tidak diundang dan mengikuti kegiatan Social Lecture, kami semua tidak mengerti dengan jelas hasil pertemuan tersebut. Meskipun demikian, mudah-mudahan dengan diambilnya tema Muslim Fashion, kebudayaan yang ada di Jepang akan semakin beragam sehingga semakin menarik bagi wisatawan maupun orang Indonesia yang akan menempuh pendidikan lanjutan di Jepang, khususnya di Prefektur Hiroshima.

Acara Social Lecture tersebut berlangsung mulai pukul 17.00 – 19.00 JST di Ruang Ballroom Meeting Lantai 4 di Century 21 Hotel Hiroshima. Sementara itu, acara Social Gathering and Farewell Party sendiri berlangsung setelahnya, yaitu pukul 19.00 – 21.00 JST. Pada acara Social Gathering and Farewell Party, PPIH menyumbangkan dua buah penampilan kebudayaan yaitu musik akustik dan tarian tradisional. Dengan mempertimbangkan tema yang diusung oleh HIA pada Social Lecture, PPIH kali ini membawakan satu lagu nasyid berjudul Kamisama dari Edcoustic dan satu tarian tradisional bernama Tari Rudat dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Adapun ide penampilan tersebut muncul dari sang Ketua Divisi Sosial dan Budaya PPIH 2018/2019, yaitu Aruni Dinan Hanifa.

Lagu nasyid yang berjudul Kamisama ini dibawakan oleh Saudara M. Imron Azami (gitar) dan Saudara R. B. S. Loka (vokal). Lagu ini menceritakan bagaimana kita sebagai makhluk Tuhan dapat bersyukur atas segala kuasanya. Lagu ini sendiri dipilih karena memiliki lirik berbahasa Jepang, sehingga diharapkan para hadirin dari HIA dapat memahami musik tersebut.

Gambar 1 Penampilan Lagu Nasyid Kamisama dari Duo Imron dan Loka

Selepas penampilan lagu nasyid, PPIH langsung mempersembahkan Tari Rudat yang dibawakan dengan apik oleh M. Riam Badriana, Tony, dan Fikry Purwa Lugina. Tari Rudat ini merupakan tarian tradisional khas Lombok, yang menunjukkan keperkasaan para prajurit di daerah sana. Tari Rudat biasanya ditampilkan pada acara-acara keagamaan ataupun perayaan khitanan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lombok sendiri merupakan kota yang dikenal dengan sebutan Negeri 1000 Masjid.

Gambar 2 Penampilan Tari Rudat dari Riam, Tony, dan Ugi

Selain penampilan tersebut, HIA juga memberikan penghargaan kepada para mahasiswa Indonesia yang akan diwisuda pada periode Maret 2019 mendatang. Sambutan dari wisudawan kali ini diwakili oleh Saudara Murman Dwi Prasetio. Dalam sambutannya, Saudara Murman menceritakan pengalamannya selama di Jepang dan berharap pengalaman selama menempuh studi di Jepang dapat bermanfaat bagi seluruh wisudawan saat kembali mengabdi di negeri tercinta Indonesia.

Gambar 3 Mr. Kozo Tamura (Chairman HIA) memberikan penghargaan secara simbolis kepada Saudara Murman sebagai perwakilan wisudawan

 

 

 

Gambar 4 Keseruan acara HIA Socila Gathering and Farewell Party

 

Selamat untuk para wisudawan, semoga bisa terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Semoga teman-teman yang lain bisa menyusul untuk segera menyelesaikan studinya. Sukses untuk kita semua! Semoga hubungan yang baik antara masyarakat Indonesia dan Jepang ini dapat kita lanjutkan sehingga memberikan dampak yang nyata bagi kita semua. Aamiin.

Sampai jumpa di HIA selanjutnya dan acara-acara PPIH lainnya!

 

#PPIHBersahabat
#BersamaBersinergi