Kuliah Tamu “Kearifan Lokal Arsitektur Nusantara”

Apa itu arsitektur nusantara dan bagaimana contoh implementasinya di era saat ini?

Hari Minggu, 19 November 2017 diadakan PPI Hiroshima mengadakan kuliah tamu yang membahas tentang kearifan lokal arsitektur nusantara. Pembicara yang diundang adalah Dr. Mohammad Mochsen Sir yang merupakan visiting scholar di Departemen Arsitektur Hiroshima University. Di Indonesia, beliau merupakan pengajar di Departemen Arsitektur Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan, dengan bidang keahlian Teori, Sejarah, dan Perilaku Arsitektur.

Acara yang dimulai sekitar pukul 10.30 pertama-tama membahas perbedaan antara arsitektur Indonesia, yang merupakan negara tropis dengan dua musim, dengan arsitektur negara subtropis dengan empat musim seperti Jepang. Karena Indonesia tidak memiliki musim dingin yang “mematikan”, maka arsitektur bangunan di Nusantara cenderung bersifat terbuka, rumah merupakan tempat pernaungan atau perteduhan. Sementara rumah pada negara subtropis cenderung sebagai tempat berlindung dan pada musim dingin rumah digunakan sebagai tempat melakukan aktivitas sepanjang hari sehingga bagian dalamnya dihiasi dengan ornamen yang indah.

Selanjutnya dibahas mengenai keanekaragaman arsitektur Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Di sini muncul diskusi yang menarik antara pembicara dan peserta mengenai corak arsitektur Nusantara yang begitu beragam dan sulit dirumuskan. Seperti misalnya, apabila memang arsitektur Nusantara memposisikan rumah hanya sebagai tempat bernaung, yang sifatnya terbuka dan biasanya menggunakan bahan bangunan kayu, bagaimana dengan candi? Karena topik diskusi yang bisa menjadi sangat panjang, maka diputuskan agar diskusi tersebut dilanjutkan di luar acara kuliah tamu.

Akhir kata, Indonesia sangatlah kaya akan keanekaragaman dan masih banyak lagi yang belum terpetakan. Semoga keanekaragaman tersebut tetap lestari dan terjaga ­čÖé

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *